eve dan Brirish Council memfasilitasi beberapa fashion designer terkemuka Indonesia untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan fashion designer, textile designer, graphic designer, dan interior designer Mark Eley, yang bersama Wakako Kishimoto mendirikan rumah desain Eley Kishimoto.
”Mark Eley adalah salah seorang pemain penting dalam industri kreatif di dunia internasional, terutama di Eropa. Karena itu, begitu diberitahu dia akan datang ke Jakarta atas undangan British Council, eve tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Eve pun langsung mengontak British Council, meminta diberi kesempatan mengundang Mark Eley untuk berbincang-bincang satu-dua jam dengan para fashion designer di Indonesia. Siapa tahu perbincangan itu mendatangkan inspirasi bagi fashion designer Indonesia,” ujar Amy D. Wirabudi, Editor in Chief eve Indonesia.
Maka, di Jumat sore 20 April lalu, beberapa fashion designer terkemuka Indonesia berkumpul di Hotel Mulia, Jakarta. Mereka tampak antusias berbincang dan bertukar pikiran dengan Mark Eley. Hadir dalam acara yang dipandu oleh fashion designer Era Soekamto itu antara lain fashion designer Poppy Dharsono, Musa Widyatmodjo, Samuel Wattimena, Denny Wirawan, Didi Budiharjo, Taruna, dan Sekretaris Eksekutif Badan Pengurus Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia E.G. Ismy.
Mark Eley sendiri adalah sarjana fashion dan tenun lulusan Brighton Polytechnic. Di bawah bendera Eley Kishimoto, karya-karyanya banyak dipesan oleh desainer internasional, antara lain Marc Jacobs, Louis Vuitton, Joe Casely-Hayford, Hussein Chalayan, dan Alexander McQueen. “Saya dan Wakako Kishimoto memulainya dari nol. Kendati Eley Kishimoto kini sudah banyak dikenal, kami tak bermaksud menjadikannya besar, karena kami selalu ingin melayani klien kami secara lebih personal,” ungkap Eley. Pria kelahiran Bridgend, Wales, pada tahun 1968 ini mengaku harus bekerja keras untuk membangun reputasi Eley Kishimoto. “Kami juga sempat mengalami kesulitan finansial dalam membangun usaha ini,” tutur pria berkumis gondrong itu dengan nada lembut.
Namun, menurut Taruna dalam acara bincang-bincang santai tersebut, Eley Kishimoto bisa survive di dunia internasional karena industri kreatif di negaranya sudah maju. Saat ini saja, tambah Taruna, industri kreatif di Inggris telah menjadi sektor kedua terbesar setelah jasa perbankan (finansial), dengan menyerap sekitar dua juta tenaga kerja. “Biarpun Eley Kishimoto bisa survive tanpa dukungan langsung dari pemerintah Inggris, pemerintah di sana mendukung lewat berbagai cara, antara lain lewat peraturan-peraturan yang jelas dan melindungi industri kreatif mereka. Selain itu, banyak perusahaan lain yang juga tertarik dan memanfaatkan kreativitas para desainer itu,” ungkap Taruna.
Tidak demikian halnya dengan Indonesia. Menurut Taruna, industri fashion di Indonesia kurang mendapat dukungan dari pemerintah dan sering mendapat perlakuan diskriminatif dari banyak pihak. “Misalnya, banyak department store lebih menyukai menampilkan brand internasional dan tak memberi ruang bagi karya-karya desainer Indonesia. Medianya pun begitu, kurang sekali memberi ruang bagi karya-karya fashion designer dalam negeri. Pemerintah juga tidak banyak membantu, sehingga yang kecil tetap menjadi kecil dan yang besar semakin besar. Ada memang program-program yang dibuat pemerintah sebagai upaya memajukan dunia fashion, tapi kebanyakan program-program itu berjalan sendiri-sendiri, tidak terintegrasi,” kata Taruna K. Kusmayadi, yang juga Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
Hal senada juga diungkapkan Didi Budiharjo seusai acara bincang-bincang itu. “Pemerintah kita memang kurang memberi dukungan, sehingga agak sulit bagi fashion designer kita untuk melangkah ke dunia internasional. Padahal, fashion designer Indonesia bisa dikatakan lebih maju ketimbang rekan-rekan mereka dari negara-negara Asia yang lain, kecuali Jepang. Contohnya, beberapa kali saya ikut dalam Hong Kong Fashion Week, media massa di sana selalu memberi tanggapan yang sangat positif terhadap karya-karya fashion designer dari Indonesia. Masalahnya, menurut saya, fashion designer Indonesia kurang promosi di dunia internasional. Selain itu, untuk memulai bisnis ini di dunia internasional tidak mudah, karena ada berbagai izin yang harus diurus, sehingga dapat menjadi hambatan bagi fashion designer kita. Mestinya, pemerintah ikut membantu dalam hal ini. Dulu, Badan Pengembangan Ekspor Nasional pernah melakukan upaya untuk membantu, tapi sekarang tidak jalan,” papar Didi. Untuk pasar dalam negeri, menurut Didi, bisa dikatakan fashion kita sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kecuali untuk pakaian yang ready to wear.
“Pemerintah kita sebenarnya peduli,” kata E.G. Ismy, “tapi ya sebatas peduli, enggak ada aksinya. Produk kita susah bersaing di kancah internasional antara lain karena tak adanya kepastian-kepastian dalam banyak hal. Dalam urusan energi saja, misalnya, kenaikan harga BBM bisa terjadi dua kali dalam setahun. Belum lagi masalah dalam urusan pendanaan, buruh, dan infrastruktur,” tutur Ismy.
Toh, dalam acara bincang-bincang itu, Poppy Dharsono lebih setuju dengan cara yang dilakukan oleh Mark Eley dengan Eley Kishimoto-nya. “Desainer memang harus mampu membuat brand image sendiri,” ujar Poppy. Karena, kalau brand image seorang desainer sudah dikenal, desainer itu dapat mencari pasar sendiri. “Karena, orang sudah tahu reputasi kita. Mungkin tidak semua produk bisa menguntungkan, tapi brand-nya bisa mendatangkan keuntungan. Contohnya Channel. Produk yang menguntungkannya justru tas dan sepatu,” kata Poppy. Jadi, tambah Poppy, brand image memang harus dibangun. “Caranya antara lain dengan menggelar fashion show setiap tahun, membuat produk below the line, dan berhubungan dengan media,” tuturnya.
Samuel Wattimena pun mengungkapkan hal serupa. “Persoalan di Inggris dan di sini sebenarnya hampir sama. Desainer memang seharusnya dapat survive sendiri. Untuk meluaskan pasar ke negara-negara lain, desainer harus proaktif sendiri. Kita yang di Indonesia harus realistislah. Urusan pemerintah kita kan banyak dan orientasinya lebih ke masalah-masalah lain, jadi mestinya industri fashion harus siap sendiri. Kita harus menjemput bola untuk bisa menjadi pemain internasional,” ujar Samuel.
Soal adanya perlakuan diskriminatif dari banyak pihak terhadap fashion designer Indonesia, Samuel tidak melihat hal tersebut. ”Persoalannya bukan diskriminasi, tapi keberpihakan mereka memang bukan di situ. Mereka melihat pada nilai ekonomisnya dan, seperti dikatakan Mark Eley, ini persoalan global, bukan hanya di Indonesia,” ungkap Samuel.
Mark Eley sendiri menganjurkan agar fashion designer Indonesia menjadi pemain global. “Apalagi, di Indonesia ini banyak sekali orang yang kreatif,” katanya. Bisakah kita? Bisa! (Pedje)
Karya tulis Pedje yang mudah-mudahan bisa menambah wawasan Anda, mulai dari seni, agama, psikologi, buku, budaya, sosial, kesehatan, jalan-jalan, sampai wawancara artis. Juga ada berbagai tips praktis untuk kesehatan mental dan sebagainya. Silakan dikutip atau dikopi asalkan alamat blog ini dicantumkan.
Showing posts with label Poppy Dharsono. Show all posts
Showing posts with label Poppy Dharsono. Show all posts
Friday, October 30, 2009
Monday, October 12, 2009
Menengok Puro Mangkunegaran

Acara puncak perayaan 250 tahun Puro Mangkunegaran diisi dengan pertunjukan sendratari kolosal Adeging Praja Mangkunegaran. Terlalu banyak yang ingin ditunjukkan dan terasa kurang persiapan.
Gamelan telah berdentang ketika matahari akan mencapai titik kulminasinya. Serombongan penari dengan pakaian hitam dan bermahkota bulu seperti kepala suku Indian mulai beraksi. Terdengar ramai suara gemerincing ketika para penari itu mengentakkan kaki-kaki mereka, yang berbalut sepatu boot hitam. Puluhan penonton pun mendekat. Juru foto sibuk mengabadikan tarian itu dari berbagai penjuru.
Siang itu, 11 November 2007, di alun-alun Puro Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, memang digelar pesta kesenian rakyat. Selain tari Topeng Ireng Dayakan yang dibawakan oleh Paguyuban Seni Jalan Krido Mulo asal Boyolali tersebut, juga digelar bermacam kesenian rakyat Solo dan sekitarnya. Inilah bagian dari puncak upacara peringatan 250 Tahun Puro Mangkunegaran, yang telah berlangsung sejak Maret lalu.
Sayangnya, entah kenapa, pada siang itu, sebagian besar warga Solo seakan tak tahu ada perhelatan besar tersebut. Setidaknya ini bisa dilihat dari jumlah masyarakat yang datang untuk menyaksikan acara yang dimaksudkan sebagai pesta rakyat itu. Masyarakat mulai ramai mendatangi alun-alun Puro Mangkunegaran menjelang sore hari, ketika rombongan kirab masuk keraton, setelah mengelilingi Kota Solo.
Itu pun relatif tak lama. Karena, ketika sore tiba, mega mendung menutupi langit dan angin kencang menderu-deru. Pohon-pohon bergoyang ke sana-kemari. Hujan deras tiba. Sebagian besar pengunjung meninggalkan arena, entah ke mana. Seusai magrib, hujan mereda, meski tak berhenti sama sekali. Gerimis menyiram, namun tak menyurutkan para undangan untuk menghadiri pergelaran sendratari kolosal Adeging Praja Mangkunegaran yang akan digelar di halaman dalam dan pendapa Puro Mangkunegaran. Jalan-jalan di Solo yang dekat puro itu pun mengalami kemacetan.
Pertunjukan tersebut disutradarai oleh seniman Solo yang juga menjadi pengajar di Institut Seni Solo, Daryono. Dan sekitar 2.000 undangan hadir pada malam itu, yang bukan hanya berasal dari Solo, tapi juga dari daerah-daerah lain di Indonesia. Tampak di sana antara lain Prof. Dr. Toety Herati Noerhadi, Soetrisno Bachir, Goenawan Mohamad, Guruh Soekarno Putra, Poppy Dharsono, Harmoko, dan Dewi Motik.
Ini memang perhelatan besar. Harga tanda masuk untuk bisa menonton pertunjukan itu pun dipatok Rp300 ribu sampai Rp6 juta. Untuk masyarakat yang tak mampu membeli tiket, di alun-alun puro disediakan layar raksasa yang menayangkan pementasan di halaman dalam dan pendapa puro. ”Selain untuk mengenang kepahlawanan Raden Mas Said atau Mangkunegara I, acara ini juga dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi, memperkenalkan khazanah budaya yang ada di Mangkunegaran, dan untuk menggalang dana dari berbagai kalangan masyarakat yang peduli budaya bangsa, yang hasilnya nanti digunakan untuk merenovasi bangunan Puro Mangkunegaran,” ungkap Ir. Agus Haryo Sudarmodjo, Ketua Dewan Pelaksana Harian Peringatan 250 Tahun Puro Mangkunegaran.
Secara resmi, Puro Mangkunegaran berdiri setelah diadakan Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757, yang dilakukan antara Raden Mas Said dan Sunan Paku Buwono III atas permintaannya sendiri, dengan saksi utusan Sultan Hamengkubuwono I dan pihak VOC Belanda. Raden Mas Said hengkang dari Keraton Kartasura karena keraton yang dipimpin oleh Paku Buwono II itu ia anggap telah mengkhianati rakyat, dengan membiarkan VOC Belanda ikut campur terlalu jauh dalam kekuasaan. Raden Mas Said beserta 18 abdi dalem setianya kemudian memilih bergabung dengan orang-orang Cina di bawah pimpinan Sunan Kuning atau R.M. Garendi, yang melakukan pemberontakan terhadap VOC Belanda dan kekuasaan Paku Buwono II.
Lebih dari 16 tahun Raden Mas Said bergerilya dan melanglang ke 111 desa yang ada di wilayah Gunung Kidul, Wonogiri, Sukoharjo, dan Karanganyar. Perlawanan dilakukan dan lebih dari 250 kali peperangan terjadi antara pasukan Raden Mas Said melawan pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya. Tiga di antaranya yang paling dahsyat adalah pertempuran melawan pasukan Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I di Desa Kasatriyan, sebelah barat daya Ponorogo, Jawa Timur, tahun 1752. Yang kedua, perang paling besar, terjadi pada tahun 1756, melawan dua detasemen VOC Belanda di bawah pimpinan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan Rembang, tepatnya di Hutan Sitakepyak, Jawa Tengah. Perang ketiga terbesar terjadi ketika Raden Mas Said dan pasukannya menyerbu Benteng Vre Deburg Belanda dan Keraton Yogya-Mataram. Perang ini terjadi pada tahun 1757.
Yang mengagumkan, seperti diakui VOC, Raden Mas Said atau kelak bergelar Mangkunegara I merupakan raja Jawa pertama yang melibatkan kaum perempuan sebagai bagian dari pasukan perangnya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa Baron van Hohendorff memuji kehebatan Raden Mas Said, yang dijuluki juga sebagai Pangeran Sambernyawa karena dianggap musuh-musuhnya sebagai ”sang penyebar maut”. ”Pangeran yang satu ini sudah sejak muda terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan, sehingga tidak mau dibujuk untuk bergabung dengan Belanda; dan keterampilan perangnya itu diperoleh selama pengembaraannya di daerah pedalaman,” kata Hohendorff, seperti dikutip dari buku acara.
Peperangan terpaksa diakhiri setelah Paku Buwono III mengajaknya untuk berunding, yang kemudian melahirkan Perjanjian Salatiga 1757. Dalam perjanjian ini disepakati, Raden Mas Said mendapatkan hak mendirikan dan memimpin sebuah istana dari sebuah kadipaten. Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Sri Mangkunegoro I, Raden Mas Said lalu membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepi Kali Pepe, tempat yang ia pilih sendiri. ”Karena itu, lewat momentum 250 tahun Puro Mangkunegaran, kami ingin membangkitkan kembali spirit perjuangan Raden Mas Said yang luar biasa, agar bisa dipelajari oleh generasi sekarang dan seterusnya. Raden Mas Said itu seorang ahli perang, politisi, ekonom, agamawan, dan negarawan hebat,” ungkap Ir. Agus Haryo Sudarmodjo.
Dan, hampir sebagian besar adegan pertunjukan Adeging Praja Mangkunegaran pada malam itu diisi dengan penggambaran perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. ”Pementasan ini melibatkan sekitar 400 orang pemain, yang terdiri dari penari Soeryosumirat, dari Institut Seni Indonesia, Wayang Orang Sriwedari, Wayang Orang RRI, dan berbagai elemen masyarakat, termasuk masyarakat dari etnis Cina. Lewat penggarapan pementasan ini kami ingin meneruskan keteladan Raden Mas Said yang merangkul seluruh lapisan masyarakat serta ingin mengungkapkan bahwa pemimpin itu mestinya seperti itu dan harus didukung oleh rakyat,” ujar Daryono, sang sutradara. Konsep pergelarannya sendiri, tambah Daryono, adalah upaya memahami ruang yang ada di Puro Mangkunegaran, baik ruang secara fisik maupun ruang metafisika, seperti perjalanan sejarah, yang bersifat proses. ”Dari sana kami lalu memilih sudut-sudut pandang dan materi yang cocok untuk menggambarkannya,” kata pria yang pernah menyutradarai pertunjukan Mahakarya Borobudur ini.
Pertunjukan dibuka dengan adegan pemberontakan yang dilakukan laskar Cina yang dipimpin Sunan Kuning. Suasana kacau pun tercipta di halaman Puro Mangkunegaran. Setelah itu masuklah seorang lelaki gagah dengan segenap pasukannya dan kemudian bertempur dengan pasukan VOC Belanda, yang disokong oleh prajurit dari Bugis, Bali, dan Mataram. Pasukan Belanda kocar-kacir.
Adegan peperangan terus terjadi, sampai akhirnya berhenti ketika tiga orang laki-laki berdiri di tengah kolam. Rupanya, itulah visualisasi dari Perjanjian Salatiga. Sesudahnya muncul iringan-iringan dan penonton pun seakan tak percaya bahwa mereka melihat gajah berjalan perlahan di depan rombongan itu. “Dalam sejarahnya, gajah tak pernah digunakan oleh Raden Mas Said dalam perjuangannya. Gajah itu dipakai dalam pementasan ini sebagai simbolisasi dari keagungan dan kebesaran Raden Mas Said, yang sedang menjalani proses jumenengan, yang diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Sri Mangkunegoro I,” ungkap Daryono.
Pertunjukan lalu beralih ke pendapa. Tari bedaya digelar, diikuti dengan tari-tarian lain, seperti fragmen tari topeng dengan lakon Panji Sekartaji, tari langendriyan dengan cerita Menak Jingga Lena, dan pertunjukan wayang orang. Dari sana adegan bergeser kembali ke halaman sampai akhirnya masuk adegan nebu sauyun, yakni pembacaan maklumat oleh K.G.P.A.A. Mangkunegara IX, yang kini memimpin Puro Mangkunegaran. Dalam maklumat itu ditekankan pentingnya kesatuan dari seluruh anak bangsa dan pernyataan mengenai eksistensi Mangkunegara. ”Inti dari adegan nebu sauyun itu adalah mengumpulkan seluruh trah yang ada di Mangkunegaran, yang notebene sampai sekarang masih suka kurang akur. Selain itu, maklumat ini juga dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa Mangkunegaran tidaklah eksklusif,” kata Daryono.
Apa pun, pergelaran sedratari kolosol yang berlangsung sekitar dua setengah jam itu terasa sangat panjang dan cenderung membosankan. Terlalu banyak peristiwa yang ingin ditunjukkan dalam potongan-potongan adegan yang sulit diidentifikasi perbedaannya oleh penonton. ”Saya tidak bisa menikmati. Banyak sekali yang ditunjukkan. Tapi, memang mungkin maksudnya bukan untuk dinikmati, tapi untuk dilihat saja. Jadi, kalau kita mengharapakan suatu pertunjukan seni yang memuaskan, ya, mungkin tidak bisa. Khalayak kan datang ke sini untuk merayakan 250 tahun Mangkunegaran,” ujar budayawan Goenawan Mohamad.
Sementara itu, Guruh Soekarno Putra berpendapat, pertunjukan seperti itu bermanfaat untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, khususnya kebudyaaan Jawa. ”Sayangnya, penataan tempat duduknya membut penonton kurang bisa menyaksikan pertunjukan dengan nyaman,” ungkap Guruh. (Pedje)
Subscribe to:
Posts (Atom)