Edward Hutabarat bak pendekar kelana dalam dunia fashion Indonesia. Tak puas hanya menjadi follower, ia pun mengembara ke berbagai penjuru negeri ini untuk menemukan jatidiri. Pergulatannya yang panjang dan penuh cinta dengan kekayaan alam serta budaya Indonesia melahirkan ‘jurus-jurus baru’ yang dikagumi banyak orang.
Tak dapat dinafikan, semaraknya pemakaian batik pada berbagai kalangan belakangan ini tak dapat dilepaskan dari nama Edward Hutabarat, seniman serbabisa yang lebih ingin disebut sebagai fashion designer saja. “Karena, bagi saya, fashion itu lifestyle, bukan sekadar sepotong baju, tapi juga menyangkut bagaimana celana dalam pilihan Anda, handuk, piring, mangkuk, sampai cara berjalan. Fashion itu dipengaruhi oleh pakua, delapan arah mata angin. Ini saya temukan dalam perjalanan saya sebagai fashion designer,” ujar pria kelahiran Tarutung, Sumatra Utara, pada 51 tahun lalu ini.
Dengan pemikiran semacam itu, menurut Edo—begitu biasa ia disapa oleh teman-temannya—semua unsur ia masukkan ke dalam life style. “Saya bukan Valentino, bukan John Galiano. Saya hanya Edward Hutabarat yang lahir di Tarutung, yang berusaha mengembangkan fashion Indonesia, tentunya dengan barometer perspektif saya, karya-karya internasional. Dengan begitu, baju saya bisa match dengan tas Hermès atau jelly shoes dari Marc Jacobs atau dengan Manolo Blanic. Itulah yang pertama kali saya pikirkan ketika saya membuka Part One, start-nya dari sana. Karena, ini dunia global. Kita harus blending semua itu,” ungkapnya.
Part One adalah butik yang dibuka Edo pada tahun 2006 lalu. Belum lama memang. Namun, dapat dilihat di sana, untuk mewujudkannya, putra mantan seorang jaksa ini harus melewati perjalanan panjang dan mendalami serta menghayati kekayaan budaya dan alam yang dimiliki bangsa besar Indonesia. Karena, seperti diungkapkan Edo di atas, Part One tidak sekadar menawarkan busana, namun menyajikan beragam produk gaya hidup yang merefleksikan penghargaan dan kecintaan Edo terhadap Indonesia, yang pembuatannya dilakukan oleh seniman mumpuni dari berbagai daerah. ”Untuk itu, saya melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke,” kata pria yang senang jalan-jalan ini.
Pada peragaan busana yang digelar beberapa waktu lalu, misalnya, Edo dengan Part One-nya menampilkan karya-karya batik nan cantik dan elegan, dengan bahan sutera yang ditenun dengan alat tenun bukan mesin dan juga yang berbahan katun. Busana itu dikombinasikan dengan beragam aksesori yang digali dari kekayaan negeri ini, seperti bebatuan, tanduk, dan perak. ”Konsepnya, ya, itu tadi, menggabungkan batik atau fashion Indonesia dengan brand internasional,” tutur fashion designer yang belasan tahun lalu juga sukses menaikkan kembali pamor kebaya sebagai bagian dari gaya hidup perempuan Indonesia ini.
Untuk lebih mengenal pemikiran dan karya-karya Edo, awal Juli lalu, Editor in Chief eve Indonesia Amy D. Wirabudi, Senior Features Editor Purwadi Djunaedi, dan Fashion Editor Rinny Adha Yanti mengunjungi Edo di rumahnya yang artistik di bilangan Taragong, Jakarta Selatan. Perbincangan berlangsung hangat, dengan ditemani kudapan khas dari berbagai daerah di Indonesia. ”Barang-barang yang ada dalam rumah saya adalah gaya Indonesia dan tidak ada satu pun barang di rumah saya yang saya beli, tapi semuanya hasil koloborasi. Paling-paling barang jadi yang saya beli adalah piring. Dan, saya bisa melihat ritme mata orang yang masuk ke rumah saya, yang berbeda ketika masuk Da Vinci, misalnya. Bukan saya memojokkan Da Vinci, tapi yang ada di sana kan semua produk luar negeri. Kenapa kita yang juga punya sesuatu di sini tidak kita kembangkan? Padahal, kalau kita kembangkan secara solid dan konsisten, apa yang kita miliki itu bisa menghibur kalangan teknologi, bisa menghibur Bill Gates atau Steven Spielberg mungkin, atau kalangan jet set sekarang. Untuk orang-orang seperti mereka kan sesuatu yang glamor itu kalau mereka bisa berenang di pulau perawan, sementara mayoritas orang kita menerjemahkan modern itu hanya sebatas kulit,” ujar Edo penuh semangat. Berikut petikan perbincangan kami dengan Edo.
Bagaimana perasaan Anda melihat perkembangan pemakaian batik yang sedang marak sekarang ini?
Saya sekarang sudah bisa tidur nyenyak. Capek saya setelah riset bertahun-tahun rasanya hilang begitu melihat banyak orang sekarang sibuk bikin batik, mirip seperti saya bikin kebaya dulu. Tapi, sebagian besar yang sibuk itu masih orang-orang di kota. Padahal, waktu saya riset tentang baju adat, kain adat, perhiasan adat, dan sebagainya pada tahun 1991 sampai launching kebaya pada tahun 1996, orang-orang desa dari Sabang sampai Merauke sudah menjerit-jerit meminta pertolongan orang kota, untuk mengarahkan apa yang mereka harus produksi, sesuai dengan keahlian mereka. Itu sudah sekian belas tahun yang lalu, lo.
Apa yang mendorong Anda untuk melakukan riset dan akhirnya memilih untuk membuat kebaya dan kemudian batik?
Saya tidak pernah memilih untuk membikin kebaya dan batik. All by nature. Karena, waktu saya bikin gaun-gaun malam, saya merasa hanya sebagai follower. Karena, bukan hanya siluetnya yang saya ambil dari Barat, tapi juga bahan dan sulamannya. Saya tak mau seperti itu lagi. Saya mau menjadi diri sendiri. Saya mau punya identitas, karena itu penting.
Tentu ada pemicu kan sampai Anda bersikap seperti itu?
Tahun 1991, saya pergi ke Jambi, karena waktu itu kakak saya kerja di Jambi dan kenal dengan Gubernur Jambi, Pak Sayuti. Lewat kakak saya, beliau meminta saya untuk mengembangkan batik dan songket Jambi. Saya melihatnya dan langsung tetarik. Tahun 1992, saya bikin show-nya di London. Jadi, saya nyemplung begitu saja, tanpa ada pernyataan terlebih dulu bahwa saya mau bikin busana nasional. Begitu juga waktu mau ke Yogya. Kebetulan saja saya banyak teman di Yogya, jadi saya ke sana dan kemudian bikin riset di sana. Bahkan, pada awalnya sempat tersirat dalam hati saya, apakah ini dunia saya, meski pada tahun 1985 saya sudah membawa ulos Batak ke Belanda.
Awalnya, apa saja yang dilakukan ketika riset itu?
Saya datang ke suatu tempat dan saya tidak tahu mau bikin apa di sana. Pemahamannya juga belum ada. Yang ada hanya rasa cinta dan inilah yang akhirnya menuntun saya, dalam arti suatu kain bisa diapakan saja, bagaimana memperlakukannya, keanggunan seperti apa yang akan ditampilkan, bagaimana barang yang akan dikembangkan itu tampil glowing dan punya jiwa, dan sebagainya. Dan, untuk menjawab pertanyaan itu semua, saya menelusuri akarnya, menjadikan sebagai teman, menjadi bagian dari kehidupan saya, dan saya mencintainya dari hati yang paling dalam. Akhirnya, setelah riset selama lima tahun, tahun 1996, saya memutuskan untuk membuat kebaya, dengan pemikiran bagaimana caranya agar kebaya saya waktu dipakai untuk pergi ke undangan dapat bersanding dengan Donna Karan, Dior, dan lain-lain; bagaimana caranya kebaya saya bisa keren waktu dipakai bareng Harry Winston, mutiara dari Ichimoto, rubi dari Van Cliff & Arpells. Karena, kebaya-kebaya ini kan pernah menjadi inspirasi desainer dunia waktu zaman Belanda. Jadi, saya melakukan riset karena didorong oleh rasa cinta dan untuk mencari identitas.
Setelah itu Anda membuat buku tentang kebaya....
Ya, tahun 1999, saya membuat bukunya. Tahun 2000, saya diundang untuk menjadi pembicara di Kongres Kebudayaan di Bukittinggi, Sumatra Barat. Saya juga membuat show di sana, dengan memperagakan beragam kebaya dari berbagai daerah. Terakhir saya bikin show lagi si Solo, Jawa Tengah. Segala cara saya bikin untuk mengajak orang untuk ikut peduli, tapi tidak ada yang nyantel. Karena, untuk mengembangkan ini kan biayanya tinggi. Misalnya, kalau kita pesan songket sepuluh lembar, biasanya kan yang bagus hanya tiga-lima lembar, selebihnya gagal, tapi tetap saja harus bayar. Kegagalan itu terjadi karena kain-kain itu benar-benar dibuat dengan tangan dan tergantung pada alam. Itu sebenarnya jiwa kain adat. Karena itu, jangan pernah membandingkan selembar batik, misalnya, dengan selembar kain dari Leonard atau Roberto Calvalli. Tidak akan tertandingi. Karena, di kain adat ada jiwa, napas, human, kultur, gaya hidup. Begitu juga dengan kerajinan perak dan sejenisnya. Seluruhnya dikerjakan dengan passion dan cinta. Di sana ada kombinasi kultur dan religi.
Soal identitas itu, seberapa penting?
Identitas itu penting. Indonesia kini morat-marit karena krisis identitas, sementara identitas itu ada dalam batik. Begitu kuatnya. Dan, ada kehidupan di belakang batik. Ada usaha kecil dan menengah di sana, yang menjadi mayoritasnya. Di dalamnya juga ada pariwisata. Kalau dijual, gila! Misalnya, dalam pesawat dari Jakarta ke Solo atau Ke Yogya, penumpang disajikan tontonan tentang daerah tujuan wisata yang ada di sana, tempat-tempat makannya, kekayaan budayanya, dan sebagiannya. Tapi, untuk bisa ke arah sana, menterinya harus punya taste. ”Kita boleh saja hanya punya singkong, tapi pastikan yang kita punya itu adalah singkong yang terbaik,” itu yang pernah dikatakan mama saya. Kalau Anda tidak bisa beli bunga mawar, tanam saja suplir. Kalau tidak punya pot, pakai saja bekas kaleng cat. Jadi, semua itu tidak harus berkaitan dengan uang. Ini berkaitan dengan taste dan blue print. Nah, ketika akan bikin blue print, rekrut orang-orang yang terbaik.
Kesulitan apa saja yang Anda alami selama riset dan proses pencarian identitias itu?
Saya tidak menemui kesulitan untuk melakukan semua itu karena saya melakukannya dengan perasaan bahagia. Jangan ada matematika duit di kepala, tapi harus dimulai dengan cinta. Ini terbukti berhasil, walau tadinya banyak orang yang mencemooh. Bayangkan, pada tahun 1996, dari seratus desainer yang ada di Indonesia, hanya saya sendiri yang ketika itu membuat kebaya. Saya diledek. Tapi, setahun kemudian, ternyata banyak sekali yang meniru dan kebaya kemudian berkembang seperti sirkus, karena yang membuatnya ’tidak masuk’, hanya mengejar permintaan pasar. Kebanyakan seperti itu. Itulah saya break dulu untuk bikin kebaya, sebelum kebaya itu dikasih sayap. Ha-ha-ha.... Bagi saya sendiri, kebaya itu kalau sudah tidak simetris bukan kebaya lagi namanya. Kebaya itu harus simetris.
Begitu juga ketika saya membuat Part One. Banyak orang yang bilang saya sedang melakukan proses bunuh diri. Saya diam saja. Tapi, sekarang lihatlah. Mulai dari Pasar Klewer di Solo sampai Senayan City, orang kan bikin batik. Harganya mulai dari Rp30 ribu sampai harga yang tinggi. Bisa dibilang, sekarang, desainer Indonesia yang tidak bikin batik karena malu saja. Karena, sebenarnya, begitu kerasnya permintaan pasar.
Saya sendiri awalnya tidak mudah mempromosikan batik-batik ini ke berbagai media massa. Tak sedikit media yang menolak. Tapi, saya jalan terus. Saya gedor pintu mereka. Karena saya yakin ini menjanjikan, bukan hanya untuk saya pribadi, tapi untuk banyak orang, karena memang proses produksinya melibatkan banyak orang. Apalagi, kemudian banyak orang asing, wartawan-wartawan asing yang menyukainya. Saya menjadi punya nilai dan itu membuat saya semakin yakin.
Sebelumnya, apa yang membuat Anda yakin karya-karya batik Anda akan diterima dengan baik oleh masyarakat?
Tahun 2004 dan 2005, ketika saya belum bikin Part One, saya dengan santai mendandani Izabel Yahya dan Fahrani dengan batik saya dan saya minta mereka duduk-duduk di Kudeta, Bali. Dan, saya lihat orang-orang asing dari mancanegara langsung merubung Izabel dan Fahrani seperti semut, sambil memuji-muji baju mereka. Ketika itu, saya berpikir, kalau batik hanya untuk busana nasional, batik paling-paling hanya buat perkawinan doang. Berapa banyak, sih? Paling banyak 200 potong dan setelah itu dilupakan, dilipat dan disimpan.
Anda tampaknya sudah mantap dengan pilihan ini....
Rasa penerjemahan fashion yang seperti itu lebih mantap dalam lima tahun belakangan ini, meski semangatnya sudah ada sejak lama. Semangat itu lebih solid setelah saya mengadakan riset dan saya bergaul dengan banyak orang, mulai dari terendah sampai yang tertinggi, dari Waikabubak sampai Soho. Semua tempat itu saya rindukan dalam hidup saya. Saya bisa rindu Lasem, Madura, Shang Hai, dan lain-lain. Bukan berlian, bukan jam tangan, bukan pesawat jet pribadi, bukan yang lain, yang membuat saya bahagia, tapi perjalanan ke tempat-tempat itu. (Pedje)
Karya tulis Pedje yang mudah-mudahan bisa menambah wawasan Anda, mulai dari seni, agama, psikologi, buku, budaya, sosial, kesehatan, jalan-jalan, sampai wawancara artis. Juga ada berbagai tips praktis untuk kesehatan mental dan sebagainya. Silakan dikutip atau dikopi asalkan alamat blog ini dicantumkan.
Showing posts with label batik Indonesia. Show all posts
Showing posts with label batik Indonesia. Show all posts
Tuesday, November 3, 2009
Friday, October 16, 2009
Empu Batik Itu Telah Berpulang



Berita duka itu datang kala senja. Salah seorang penjaga kebudayaan Indonesia, Jawa khususnya, telah tiada, dipanggil menghadap Yang Mahakuasa pada hari Rabu, 5 November 2008 lalu. Namanya Go Tik Swan, namun kemudian lebih dikenal sebagai Panembahan Hardjonagoro. Beliaulah orang Tionghoa pertama yang memperoleh anugerah derajat tertinggi keraton, karena dedikasi dan kontribusinya yang luar biasa terhadap kebudayaan Jawa. ”Ia bukan orang Tionghoa pertama yang diangkat sebagai abdi dalem karaton, tetapi dialah orang Tionghoa pertama yang memperoleh anugerah derajat tertinggi karaton, yaitu sebagai Panembahan Hardjonagoro,” tulis Prof. Dr. Rustopo, S.Kar., M.S., dalam buku Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro (2008). Sepanjang hidup Go Tik Swan, ungkap Rustopo dalam buku tersebut, pada hakikatnya dilakoni untuk pencarian dan pemantapan jatidirinya sebagai Jawa yang ditakdirkan melekat sejak dilahirkan oleh ibunya.
Mungkin, tak banyak dari kita yang mengenal sosok beliau. Apalagi, Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro selama hidupnya bukanlah orang gemar publikasi. Namun, siapa pun yang mengaku sebagai pemerhati kebudayaan Jawa atau orang yang mengaku sebagai pencinta batik tentulah belum lengkap pengetahuannya apabila tak mengetahui karya-karya dan aktivitasnya, meski barangkali belum pernah bertemu langsung dengan beliau semasa hidupnya.
Beliaulah orang yang mendapat “titah” dari Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, untuk membuat Batik Indonesia. Bagi Go Tik Swan, seperti dipaparkan dalam otobiografinya, permintaan Bung Karno tersebut adalah amanat yang harus dijalankan. ”Terus terang, saya sangat terkejut dengan permintaan itu. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya. Perasaan bingung dan bimbang pun menjadi satu. Namun, karena itu amanat, bagaimanapun dan apa pun yang akan terjadi, saya harus menjalankannya,” tutur Go.
Setelah menempuh perjuangan yang melelahkan fisik dan mental, termasuk melakukan ”ritual” nglakoni seperti yang lazimnya dilakukan oleh orang-orang Jawa, Go Tik Swan akhirnya berhasil menciptakan Batik Indonesia, yang diterima dengan baik oleh Bung Karno dan kemudian dilegitimasi serta diperkenalkan oleh Bung Karno sebagai Batik Indonesia. ”Pada dasarnya, Batik Indonesia yang saya buat adalah hasil perkawinan batik klasik karaton—terutama gaya batik Surakarta dan Yogyakarta—dengan batik gaya pesisir utara Jawa Tengah, terutama Pekalongan,” paparnya.
Gaya batik klasik keraton Surakarta dan Yogyakarta yang introvert dikawinkan dengan gaya batik pesisir utara Jawa Tengah (Pekalongan, Juwana, Lasem) yang ekstrovert. Teknik sogan, pewarnaan dengan soga, pada batik Surakarta dan Yogyakarta dikawinkan dengan teknik pewarnaan multicolor pada batik pesisir. Di samping itu, pola-pola perubahan bentuk pada batik Cirebon dan motif-motif tenun Bali kadang juga digunakan untuk menyemarakkan perkawinan kedua gaya batik tersebut.
”Kalau dulu dunia pembatikan Solo hanya kenal latar hitam, latar putih dengan sogan, dan pantai utara seperti Pekalongan hanya kenal kelengan berwarna, batas-batas itu dengan lahirnya Batik Indonesia menjadi terhapus. Namun, nilai-nilai falsafah dalam pola-pola batik masih yang lama,” tutur Go Tik Swan. Landasan berpikir seperti itulah yang kemudian ia ungkapkan sebagai filosofi nunggak semi, yang diambil dari kata tunggak yang berarti ’tonggak’ atau ’tunggul kayu’ dan semi yang berarti ’tumbuh’, ’bersemi’, ’bertunas’.
Tonggak itu diibaratkan sebagai kebudayaan (Jawa) tradisional dan semi diibaratkan sebagai pertumbuhan atau perkembangan kebudayaan tradisional. Jadi, nunggak semi adalah suatu konsep pengembangan kebudayaan yang menekankan bahwa pengembangan suatu kebudayaan seharusnya tidak menghasilkan pertumbuhan secara liar, melainkan didasarkan atas pokok atau tonggak kebudayaan yang lama (tradisional atau klasik).
”Saya tidak menyatakan bahwa batik kita harus tetap seperti yang kuno. Saya tidak antiperubahan dan kemajuan. Saya hanya mengajak untuk mencari keseimbangan; suatu titik temu yang harmonis dalam proporsi seni dan tekniknya. Ini tidak bisa lain dari suatu karya yang nunggak semi. Mengenal yang lama untuk mencipta yang baru, tidak hanya tekniknya atau lahiriahnya, tetapi sampai ke penghayatannya. Ini tidak bisa dilakukan tanpa menciptakan lingkungan hidup berkebudayaan,” ujar Go Tik Swan pada tahun 1984 lampau dalam sebuah kesempatan. Oleh Go Tik Swan, pola-pola batik yang rumit, kecil, dan halus dipertegas, diperkuat, atau kalau perlu agak dirombak, tanpa meninggalkan tunggak-nya.
Lewat karya-karya batiknya, kita bisa menyaksikan cintanya yang menggelora kepada batik bukanlah cinta yang membekukan dan kemudian menjadikan batik sekadar warisan kebudayaan lama, yang harus dielus-elus sebelum akhirnya tenggelam diterkam gelombang zaman. Cinta Go Tik Swan kepada batik adalah cinta yang membebaskan, yang membuat batik mampu beradaptasi dalam arus deras perubahan zaman tanpa kehilangan kesejatiannya sebagai warisan budaya masa silam dengan nilai-nilai penting di dalamnya. Batik di tangan kreatif Go Tik Swan adalah suatu hasil dialog panjang antara masa silam yang rumit sekaligus elegan dengan masa depan yang dipenuhi harapan sekaligus kecemasan.
Menjadi Jawa sejak Kecil
Go Tik Swan lahir di Desa Kratonan, Serengan, Surakarta pada 11 Mei 1931, sebagai anak sulung dari empat bersaudara, dari pasangan Go Dhiam Ik dan Tjan Ging Nio. Ayahnya adalah pengusaha di berbagai bidang, termasuk dalam bisnis batik. Akan halnya ibunya adalah putri dari pasangan Tuan dan Nyonya Tjan Khay Sing, pemilik perusahaan batik yang cukup besar di Kota Solo, yang pusat pembatikannya berada di Kestalan, Limunan, dan di Jalan Kratonan 101. “Jumlah orang yang bekerja di perusahaan batik mereka tidak kurang dari 1.000 orang,” ungkap Go Tik Swan dalam buku otobiografinya.
Meski darah Tionghoa mengalir dalam dirinya, leluhurnya sebenarnya tak seluruhnya berasal dari daratan Tiongkok, tapi ada juga yang lebih kental darah Jawanya. Mungkin karena itulah, seperti diungkapkan Rustopo, Go Tik Swan sudah menjadi Jawa sejak kecil, yaitu senantiasa berdialog dengan dan melebur ke dalam nilai, simbol, dan idiom-idiom Jawa.
Selain dikenal sebagai empu batik, Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro juga dikenal sebagai empu keris. Semasa hidupnya, beliau menjadi salah seorang anggota Dewan Empu di Institut Seni Indonesia, Solo, Jawa Tengah, dan dikenal sebagai kolektor benda-benda cagar budaya—yang telah ia wasiatkan untuk diserahkan kepada negara setelah dirinya wafat. Beliau juga menjadi Ketua Presidium Yayasan Radya Pustaka, yang mengelola Museum Radya Pustaka di Solo. Atas jasa-jasanya terhadap kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa, pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2001 menganugerahkan Tanda Kehormatan Satyalencana Kebudayaan kepada beliau. Ia juga mendapat Bintang Srikabadya dari Keraton Surakarta.
Selamat jalan, Empu! (Pedje)
Subscribe to:
Posts (Atom)
