Showing posts with label Pramoedya Ananta Toer. Show all posts
Showing posts with label Pramoedya Ananta Toer. Show all posts

Thursday, October 29, 2009

30+ Buku Pilihan untuk Anda

Jangan menilai buku dari sampulnya! Empat perempuan ini pun memilihkan beragam judul buku yang menurut mereka layak Anda baca.


Dalam sebuah kesempatan, salah seorang sastrawan terkemuka Amerika Serikat yang juga dikenal sebagai sosok yang humoris, Mark Twain, pernah berkelakar. Katanya, “Be careful about reading health books. You may die of a misprint.” Namun, meski berkelakar, ungkapan Mark Twain itu tampaknya ada benarnya. Karena, walau buku merupakan hasil budaya yang banyak mengubah wajah dunia, sikap kritis, sikap hati-hati, tetap diperlukan dalam membaca buku—apalagi sekarang ini, ketika banyak sekali buku diterbitkan dan diperjualbelikan, baik buku lokal maupun buku impor.

Memang, kita sama-sama tahu, tak semua buku mengandung muatan yang bermutu atau setidaknya kita perlukan. Tak sedikit buku yang isinya menurut hemat kita mungkin kurang layak untuk dipublikasi atau setidaknya tidak dapat memenuhi hasrat keingintahuan kita. Karena itulah, agar tak terjebak melakukan tindakan pemborosan karena membeli buku yang tidak bermutu atau tidak kita perlukan, tak ada salahnya kalau kita membaca tinjauan buku yang ada di media massa atau meminta pendapat teman yang telah membaca buku yang akan kita membeli.

Dengan pemikiran seperti itu, eve pun mengundang empat perempuan yang kami ketahui sebagai pembaca buku yang baik, untuk merekomendasikan buku apa saja yang kira-kira layak dibaca Anda, pembaca eve, yang kemungkinan besar dapat mendatangkan kesenangan sekaligus manfaat, dulce et utile, bagi Anda. Selamat membaca!

Happy Salma, Artis, 27 Tahun
“Wah, saya saat ini lagi mencoba menyelesaikan membaca novel Ibunda karya Maxim Gorky, yang diterjemahkan dengan bagus oleh Pramoedya Ananta Toer. Saya terkesan dengan novel ini, karena Gorky begitu detail dan piawai menggambarkan sosok seorang ibu yang setiap hari mencemaskan keselamatan putranya, yang aktif terlibat dalam berbagai aksi di tengah kaum buruh. Pada dasarnya, saya memang suka dengan bacaan-bacaan yang menampilkan sosok perempuan pejuang dan perempuan yang mengalami metaforsis dalam kehidupannya.

“Buku favorit saya sendiri adalah Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Menurut saya, ini karya yang ‘edan’. Saya kagum dengan keahlian Pram dalam menggambarkan penderitaan seorang gadis. Itulah sebabnya, karena membaca buku ini, saya ingin sekali berkenalan dengan Pramoedya dan, alhamdulillah, saya sempat berkenalan dengan beliau ketika beliau masih hidup.

“Saya sudah membaca Gadis Pantai berkali-kali. Saya menyukai bagian novel ini ketika si gadis mengalami kebingungan karena dirinya diserahkan kepada Bendoro dan ketika ia mulai berpikir, kemudian masuk ke dalam permasalahan hidupnya.

“Pram memang salah seorang sastrawan favorit saya. Beberapa waktu lalu, karena untuk keperluan pementasan teater Nyai Ontosoroh, saya juga membaca ulang tetralogi Pulau Buru karya Pram: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.”

Buku-Buku Pilihan Happy untuk Anda
  1. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer
  2. Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer
  3. Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer
  4. Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana
  5. Ibunda karya Maxim Gorky
  6. Pulang karya Happy Salma
  7. Candy Candy karya Kyoko Mizuki dan Yumiko Igarashi. “Komik ini simpel dan bagus.”

Aisah Hasibuan, Guru Bahasa Inggris, 27 Tahun
“Saya sekarang sedang membaca novel Can You Keep A Secret karya Sophie Kinsella, yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Pustaka Utama Gramedia. Novel ini menceritakan tentang Emma, seorang gadis biasa yang sering berbohong untuk menutupi kesalahannya. Namun, pada suatu hari, dia tanpa sengaja mengungkapkan semua kebohongannya kepada seorang lelaki yang baru ia kenal di pesawat. Tadinya, dia mengira dirinya tidak akan bertemu pria itu lagi. Namun, ternyata, lelaki tersebut adalah pemilik perusahaan tempat Emma bekerja.

“Cerita novel ini menggelitik tawa dan kekonyolan Emma sangat manusiawi, bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan, saya rasa, saya sering mengalaminya, ha-ha-ha….

“Buku-buku favorit saya adalah Being Happy karya Andrew Matthews. Buku ini cocok dibaca kalau kita sedang down. Lewat buku ini, kita juga menjadi tahu bahwa untuk menjadi bahagia itu tak sesulit yang kita bayangkan. Selain itu, buku favorit saya adalah Chicken Soup for the Soul karya Jack Canfield & Mark V. Hansen, yang kisah-kisahnya membuat kita ‘kaya jiwa’, dan Men Are from Mars, Women Are from Venus karya John Gray, yang membuat kita bisa memahami sifat-sifat lawan jenis sehingga kita tidak selalu berpikir one-sided.”

Buku-Buku Pilihan Aisah untuk Anda
  1. Being Happy karya Andrew Matthews
  2. Rich Dad, Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki. “Agar kita dapat belajar mengatur uang dengan bijak.”
  3. 7 Habits of Highly Effective People karya Steven R. Covey. “Ini buku wajib yang harus dimiliki semua orang.”
  4. 365 Tips Hidup Sehat karya Dr. Don R. Powel. “Bahasanya mudah dimengerti dan anjurannya mudah dipraktikkan.”
  5. You Are What You Think karya David Stoop. “Memotivasi kita untuk optimistis dan selalu berpikir positif.”
  6. Men Are from Mars, Women Are from Venus karya John Gray
  7. Can You Keep A Secret karya Sophie Kinsella
  8. Chicken Soup for the Soul karya Jack Canfield & Mark V. Hansen
  9. Einstein aja Tak Tahu karya Robert L. Wolke “Penjelasan tentang kejadian sehari-hari, yang bikin kita serasa semakin pinter.”
  10. The True Power of Water karya Masaru Emoto
  11. The 7 AHA!s of Highly Enlightened Souls karya Mike George. “Di buku ini ada tips-tips agar kita bisa terbebas dari segala bentuk stres.”

Ninok Wiryono, Artis, 39 Tahun
“Sekarang ini, saya sudah hampir selesai membaca buku Burnt Toast: And Other Philosophies of Life karya Teri Hatcher. Buku ini menggambarkan bagaimana Teri Hatcher melepaskan diri dan bangkit dari berbagai kungkuangan yang membelenggu hidupnya, mulai dari perceraian sampai kencan yang buruk. Saya suka membaca buku ini, karena Teri Hatcher seakan menyemangati pembaca bukunya agar tetap survive dalam kehidupan, meski usia kita sudah kepala empat--saya sendiri kan sebentar lagi akan berusia 40 tahun. Itulah sebabnya, buku Teri Hatcher ini menjadi salah satu buku favorit saya, yang saya rekomendasikan agar dibaca oleh pembaca eve. Lewat buku ini kita jadi bisa memaknai kembali ungkapan ‘life begins forty’ yang terkenal itu.

“Pada dasarnya, saya suka membaca apa saja, tidak membatasi diri dalam satu bidang saja. Sepanjang buku itu bagus, menurut saya, saya akan menuntaskan pembacaannya. Jadi, jangan heran jika topik dari buku-buku yang saya rekomendasikan untuk pembaca eve beragam.

“Biasanya, sebelum saya membeli satu buku, saya baca dulu review-nya yang ada di media massa, termasuk di Internet. Kalau ada buku yang bagus menurut orang yang pernah membacanya dan saya tertarik dengan topiknya, saya akan membeli buku itu.”

Buku-buku Pilihan Ninok untuk Anda
  1. The Purpose Driven Life karya Rick Warren
  2. Burn Toast karya Teri Hatcher
  3. The Good Girls Guide to Bad Girl Sex karya Barbara Keesling
  4. Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia karya Dr. Aidh bin Abdullah Al-qarni, M.A.
  5. Instant Confidence karya Paul McKenna
  6. Spiritual Intelligence: What We Can Learn from the Early Awakening Child karya Marsha Sinetar
  7. Angry Housewives karya Lorna Landvick
  8. Lillian Too’s Fengshui karya Lillian Too

Lia Helena, Sekretaris Eksekutif, 35 Tahun
“Buku yang sedang saya baca sekarang adalah Shopaholic & Baby karya Sophie Kinsella, yang edisi bahasa Indonesia baru saja diterbitkan oleh Gramedia. Buku ini merupakan seri kelima dari serial Shopaholic. Kisahnya tentang tokoh bernama Becky Bloomwood yang sangat keranjingan belanja, yang kini telah menikah dan tengah menanti kelahiran anak pertamanya. Sama halnya seperti buku Shopaholic terdahulu, kisahnya berputar pada tokoh Becky yang berusaha untuk mengontrol dan mengurangi kebiasaan belanjanya, meskipun hasilnya belum terlihat. Berbagai kelucuan terjadi karena tokoh Becky Bloomwood mirip sekali dengan kelakuan kaum perempuan umumnya, yang pada saat belanja exciting berat, tapi waktu melihat seberapa banyak telah berbelanja menjadi panik.

“Buku ini bagi saya menarik karena kisahnya mirip juga dengan keadaan saya sehari-hari, yang memang doyan belanja alias shopaholic dan saya terdorong untuk mengikuti kelanjutan seri Shopaholic karena alur ceritanya simpel sekaligus sangat menghibur. Bahasanya yang sangat mengasyikkan membuat saya jadi tenggelam dalam tokoh Becky tersebut. Selipan-selipan humornya juga membikin saya suka terbahak-bahak sendiri. Membaca serial Shophaholic rasanya seperti sedang bercermin, ha-ha-ha....

“Buku favorit saya sepanjang masa adalah kumpulan dongeng Hans Christian Andersen. Bagi saya, cerita Andersen yang sangat indah dan penuh pesan kebaikan membuat cerita-ceritanya timeless dan cocok dibaca semua kalangan umur dan tidak akan lekang dimakan masa. Yang juga menjadi buku favorit saya adalah Selfhelp serial Don’t Sweat The Small Stuff karya Richard Carlson, Rojak karya Fira Basuki, dan 3 Venus karya Clara Ng.”

Buku-Buku Pilihan Lia Helena untuk Anda
  1. Children Are From Heaven karya John Gray
  2. Men Are from Mars, Women Are from Venus karya John Gray
  3. Supermom karya Kathy Buckworth
  4. When You Stop Being Barbie karya Mary Pierce
  5. 3 Venus karya Clara Ng
  6. Shopaholic Series (1-5 ) karya Sophie Kinsella
  7. Rojak karya Fira Basuki
  8. Don’t Sweat the Small Stuff for Moms karya Kristine Carlson
  9. Don’t Sweat the Small Stuff for Couples karya Richard Carlson (Pedje)

Saturday, October 10, 2009

Perempuan Menggugat!

Tak banyak yang tahu, pergerakan kebangsaan dan kebangkitan nasional Indonesia banyak dipengaruhi ide-ide Kartini. Karena, itu peringatan “100 Tahun Kebangkitan Indonesia” mestinya juga adalah peringatan “100 Tahun Kebangkitan Perempuan Indonesia”.

Tahun 2008 genap 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia—meski sekarang ini Indonesia masih dalam keadaan terpuruk. Betapa kita sepatutnya bangga memiliki masa silam yang dipenuhi orang-orang yang berani, antipenindasan, dan tentu saja mencintai tanah airnya. Bayangkan saja, di tengah kekuasaan penjajah Belanda yang sangat mengekang, sebagian pemuda di tanah Jawa berkumpul untuk membentuk satu wadah organisasi pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo, untuk bersama-sama membantu masyarakat yang sedang ditindas penjajahan sekaligus berniat mengusir kaum penjajah dari negeri ini. Tentu saja, dalam konteks zamannya, pendirian Boedi Oetomo itu merupakan hal yang luar biasa. Tak mengherankan jika Mr. C. Th. van Deventer, penggagas politik etis pada masa Hindia Belanda, mengungkapkan ketakjubkannya ketika mengetahui deklarasi kelahiran Boedi Oetmo. ”Suatu keajaiban telah terjadi, Insulinde, putri cantik yang tidur itu, telah terbangun,” tulis Deventer dalam majalah De Gidds.

Dari sanalah agaknya mengalir ide tentang Hari Kebangkitan Nasional. Apalagi, setelah itu, muncul organisasi-organisasi pemuda serupa di berbagai daerah lain di wilayah Nusantara, yang kelak pada 28 Oktober 1928 berkumpul untuk mengangkat sumpah bahwa tanah air mereka adalah Indonesia; bahwa mereka adalah satu bangsa, bangsa Indonesia, dan; mereka bertekad untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia—tanpa menafikan kehadiran bahasa-bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Jadi, meskipun Boedi Oetomo merupakan organisasi orang Jawa yang cenderung membatasi diri pada ”nasionalisme Jawa”—karena otak intelektual di belakangnya adalah aktivis senior kebangkitan Jawa, Wahidin Soedirohoesodo—kelahirannya merupakan bagian dari proses kebangkitan nasional, seperti diungkap oleh Manuel Kaisiepo dalam buku 1.000 Tahun Nusantara. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa beberapa tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo dan gagasan-gagasan tentang kebangsaan Jawa muncul dari tokoh-tokohnya—terutama dari Soetomo dan Wahidin Soedirohoesodo—Kartini telah mengungkapkan gagasannya tentang kebangsaan, sebagaimana dipaparkan Dr. Dri Arbaningsih dalam buku Kartini dari Sisi Lain: Melacak Pemikiran Kartini tentang Emansipasi ”Bangsa”.

Bangsa yang dimaksud Kartini ketika itu, kata Dri, adalah pengertian rasa berbangsa orang Jawa sebagai rakyat yang memiliki bahasa, wilayah, dan budaya. Jadi, Jawa dalam pengertian ini bukan sebatas pada pemahaman sebagai rakyat tanpa identitas. Pada tahun 1903, misalnya, Kartini telah menggunakan istilah nasion, yang membuat banyak pelajar Stovia (Sekolah Dokter Pribumi) terbakar semangat nasionalismenya.

Para pelajar Stovia ini juga bersama Kartini dan Roekmini secara informal membentuk komunitas Jong Java. ”Dalam suratnya kepada seorang pelajar Stovia, Kartini mengingatkan bahwa mereka adalah Jong Java, bangsa Jawa, yang berkewajiban mencerdaskan rakyat yang miskin dan bodoh agar mampu setara dengan Belanda. Tanpa kesepakatan dengan para pelajar Stovia bahwa sesungguhnya mereka adalah Jong Java, dengan segala kewajibannya itu, barangkali tidak akan pernah ada Boedi Oetomo pada tahun 1928, Sarekat Islam pada tahun 1911, Perhimpunan Indonesia pada 1922, Sumpah Pemuda pada tahun 1928, partai-partai dan organisai pemuda-pemudi, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, dan Deklarasi Djuanda pada tahun 1982 tentang batas wilayah laut Nusantara,” ungkap Dri.

Namun, sayangnya, dari sejarah yang sampai ke kita, seolah-olah yang berperan pada momen itu semuanya hanya lelaki, tidak ada perempuannya. ”Padahal, seperti diakui oleh Dokter Soetomo, Ketua Boedi Oetomo, dan teman-teman seperjuangannya pada masa itu, ide-ide Kartini memiliki peran besar dalam pergerakan kebangsaan Indonesia. Ini juga saya ketahui dari eyang saya, yang merupakan teman perjuangan Dokter Soetomo,” ujar Pinky Saptandari, M.A., staf khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Profesor Dr. Meutia Hatta Swasono, Menteri Pemberdayaan Perempuan, juga merasa prihatin dengan penulisan sejarah yang sarat dengan bias gender. “Sangat disayangkan publikasi tentang kiprah perempuan bagi kemajuan bangsa dan negara kurang diekspos secara besar sebagaimana laki-laki,” kata Meutia. Menurut putri Proklamator Bung Hatta itu, bukan hanya Kartini yang dapat menjadi ikon perjuangan atau pergerakan perempuan Indonesia. “Sejak lama perempuan Indonesia secara budaya telah teruji kemampuannya sebagai pemimpin dalam konteks budaya lokal dan nasional, dari masa ke masa. Lihatlah perjuangan Cut Nya’ Dhien, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Nyi Ahmad Dahlan, Rohana Koeddoes, Soewarni Pringgodigdo, S.K. Trimurti, dan masih banyak lagi. Bahkan, kiprah perempuan dalam politik telah teruji berhasil hingga ke jenjang tertinggi, yakni ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden Republik Indonesia,” tutur Meutia.

Soal Kartini, Meutia pun mengungkapkan bahwa pemikiran Kartini tentang wawasan kebangsaan, tentang nasionalisme, sangat maju melampaui batas ruang dan waktu. “Pemikiran Kartini sangat maju dan telah mengilhami para tokoh perjuangan sesudah masanya untuk mengembangkan gagasan kebangkitan bangsa,” ungkap Meutia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nina Akbar Tandjung, Ketua Umum Yayasan Warna-warni, yang peduli terhadap keberagaman dan budaya bangsa. “Kartini itu bukan sekadar pejuang emansipasi perempuan, tapi juga sangat peduli dengan nasib bangsanya, yang dalam masa itu adalah masyarakat Jawa yang tertindas,” kata Nina.

Tapi, entah kenapa, kata Pinky, dalam peringatan Hari Kartini, aspek yang ditonjolkan justru aspek perjuangannya dalam urusan emansipasi perempuan saja dan kemudian sikapnya yang menerima menjadi istri kedua dari seorang bupati. Maka, sudah puluhan tahun berlangsung, Hari Kartini umumnya diperingati dengan lomba kebaya, lomba masak, atau hal-hal lain yang berkenaan dengan peran domestik perempuan. “Kebesaran Kartini telah direduksi,” ujar Pinky.

Persepsi yang melenceng itu kemungkinan besar terjadi karena orang-orang hanya mengenal sosok Kartini dari buku kumpulan surat-surat Kartini yang terkumpul di tangan Mr. J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan Pemerintah Otonomi Hindia-Belanda (1900-1905), Door Duisternis tot Licht, yang terbit pada April 1911, tujuh tahun setelah Kartini wafat. Dri Arbaningsih menduga, buku itu merupakan upaya pengalihan perhatian orang dari inti pemikiran dan perjuangan Kartini mengenai kebangkitan Jawa sebagai suatu nasion, bangsa, melalui pendidikan nalar dan akhlak. “Puncak karya pikir Kartini tertuang pada sebuah nota yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan Seberang Lautan Kerajaan Belanda, yang intinya adalah meminta kepada Kerajaan Belanda untuk memberikan pendidikan bagi bangsa Jawa, dimulai dari pendidikan bagi para bangsawan dan para perempuan bangsawan. Ia juga mengimbau didirikan selain sekolah kepandaian putri, tapi juga sekolah bagi para pamong praja dan jaksa bumiputra serta menyarankan agar obat-obatan tradisional diperkenalkan oleh para dokter Jawa,” papar Dri.

Soal Kartini yang tidak hanya bergelut dalam masalah-masalah domestik juga pernah ditulis oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Panggil Aku Kartini Saja (1962). Dalam buku itu diperlihatkan bagaimana kiprah dan pemikiran Kartini tentang banyak hal, termasuk buku-buku asing yang dibaca oleh Kartini. Menurut Pram, pada Kartini justru tak ada tanda-tanda provinsialisme. “Buat pekerjaan bersama mengangkat derajat rakyat Hindia Belanda, ia (Kartini) pandang setiap orang pribumi yang terpelajar, yang tidak lenyap ditelan alam leluhurnya atau lebur menjadi Belanda cokelat, adalah sejawat-sejawat yang harus bergandengan tangan, bantu membantu, dan isi-mengisi,” tulis Pram dalam buku tersebut. Ini terbukti antara lain dari penghargaan Kartini terhadap Abdul Rivai, dokter Jawa lulusan 1894 yang berasal dari Sumatra Barat. Kartini kagum karena Rivai rela melepas semua jabatannya di Hindia Belanda untuk meneruskan pelajaran di Belanda, tapi ketika akan menempuh ujian tidak diperbolehkan oleh Menteri Dalam Negeri Belanda. ”Oh, sekiranya kami dapat mengadakan kontak dengan pemuda-pemuda kami yang beradab dan maju, seperti Abdul Rivai, dan lain-lain...,” tulis Kartini dalam salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon.

Bahkan, Kartini yang telah menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda kemudian tidak mempergunakan kesempatan itu. Ia malah memohon agar beasiswa itu diserahkan kepada Agus Salim, pemuda kelahiran Sumatra Barat, yang ketika itu Kartini kira berasal dari Riau. Kartini pun menulis surat kepada Nyonya Abendanon pada 29 November 1901, yang ia harapkan diteruskan kepada suaminya, Mr. J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan Pemerintah Otonomi Hindia-Belanda. Demikian tulis Kartini:


Pemuda itu bernama Salim, seorang Sumatra dari Riau, yang tahun ini lulus ujian HBS dan no. 1 dari ketiga-tiga HBS yang ada. Pemuda ini ingin sekali pergi ke Holland buat meneruskan pelajaran jadi dokter, sayang keuangannya tidak mengizinkan. Ayahnya hanya bergaji f150.

Kalau perlu mau dia menjadi kelasi, asal bisa ke Holland saja.

Tanyailah Hasim tentang dia, karena dia pernah mendengar pidatonya di Stovia. Pemuda itu adalah seorang yang pandai, berani, yang patut sekali dibantu.

Waktu kami dengar tentang dirinya dan tentang angan-angannya timbullah hasrat besar dalam hati kami untuk memudahkan dia. Maka teringatlah kami pada keputusan pemerintah tertanggal 7 Juli 1903—keputusan yang sangat kami harap-harapkan tetapi yang dengan berduka-cita kami terima.

Haruskah buah kerja kawan-kawan yang mulia, harapan-harapan kami, doa dan hasrat kami, mesti lenyap tanpa guna?

Tak mungkinkah orang menggunakannya? Pemerintah menyediakan bagi kami f4.800 buat menyelesaikan pelajaran kami; tidakkah itu bisa diberikan kepada orang lain, yang barangkali lebih dari kami, tetapi sudah pasti tidak bakal kurang daripada kami selayaknya mendapat bantuan?


Menurut Tamalia Alisjahbana, putri budayawan besar Sutan Takdir Alisjahbana yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Gedung Arsip Nasional Indonesia, ayahnya pernah mengatakan bahwa Kartini kemungkinan besar urung mengambil beasiswa yang telah ia terima itu karena bujukan Nyonya Abendanon. ”Karena, keputusan itu terjadi setelah Nyonya Abendanon menemui Kartini. Menurut ayah saya, Kartini dibujuk untuk tidak mengambil beasiswa itu karena partai yang sedang berkuasa di Belanda ketika itu khawatir Kartini akan dijadikan alat oleh Partai Sosialis, yang menjadi oposisi partai yang sedang berkuasa, setelah lulus kelak. Karena, Kartini bersahabat dengan banyak tokoh, termasuk dengan Estelle Zeehandelaar, aktivis Partai Sosialis dan beasiswa itu merupakan hasil upaya anggota Parlemen Belanda dari Parti Sosialis. Sementara itu, suami Abendanon adalah salah seorang pejabat dalam pemerintahan yang sedang berkuasa. Jadi, masalahnya sebenarnya politis sekali, bukan seperti yang selama ini kita kira bahwa Kartini tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena dipaksa menikah. Justru ayahnya telah mengizinkan Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda,” ungkap Tamalia dengan semangat. Karena kecewa tak bisa melanjutkan studi ke Belanda, duga Tamalia, Kartini akhirnya bersedia menikah dengan seorang bupati yang telah beristri dan memiliki enam orang anak.

Namun, yang pasti, republik ini berdiri bukan hanya karena kiprah kaum laki-laki. Begitu pula munculnya kesadaran untuk membentuk suatu bangsa di negeri ini, tidak hanya monopoli kaum pria. Bahkan, dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan, kaum perempuan memiliki peran yang tak kalah penting dengan laki-laki. Coba bayangkan bagaimana kondisi para pejuang kita di medan laga itu bila kaum perempuannya enggan mendirikan dapur umum, misalnya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan sendiri untuk memperingati ”100 Tahun Kebangkitan Nasional” telah menyiapkan beberapa program yang bertujuan mengingatkan bangsa ini tentang peran perempuan dalam pergerakan nasional, sehingga bangsa ini menyadari bahwa tak mungkin ada kebangkitan nasional Indonesia tanpa kebangkitan perempuan Indonesia. ”Kami antara lain akan mengadakan 'Kampanye Kiprah Perempuan Indonesia', berupa seminar dan kunjungan ke seratus sekolah lanjutan atas dan lima perguruan tinggi. Juga akan menerbitkan buku ’Aksi Perempuan Indonesia: Buku Potret 100 Perempuan Pejuang Indonesia’, Pameran ’Dri Perempuan untuk Indonesia’, dan sebagainya,” papar Meutia Hatta. Hidup perempuan! (Pedje)