Hidup, kata penyair Rendra dalam sebuah sajaknya, tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh, tapi justru untuk bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan samudra, serta mencipta dan mengukir dunia. Kurang-lebihnya, itulah yang dilakukan oleh sepuluh perempuan ini, yang saya amati perjalanan hidupnya lewat berbagai sumber.
Dilihat dari perjalanan karir dan aktivitas masing-masing, mereka tampaknya menyadari benar bahwa hidup tidak bisa menunggu. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk meraih kehidupan seperti yang mereka inginkan. Mungkin Anda dapat memetik pelajaran dari perjalanan hidup mereka, yang telah membawa pengaruh yang relatif besar pada kehidupan banyak orang, baik dalam skala lokal maupun internasional.
R.A. Kartini, Pejuang Kebangsaan
Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 untuk menetapkan Raden Ajeng Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Dalam keputusan itu juga ditetapkan hari lahir Kartini, 21 April, sebagai hari besar, yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Radeng Ajeng atau Raden Ayu Kartini memang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari pasangan Raden Mas Sosroningrat yang Bupati Jepara dan M.A. Ngasirah. Kartini adalah anak kelima dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europese Lagere School, yang antara lain belajar bahasa Belanda. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang ia baca, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa dan ia ingin memajukan rakyat sebangsanya, yang pada masanya masih banyak yang belum berpendidikan. Ia juga aktif membuka kesadaran kaum pelajar pribumi agar mencintai tanah airnya. Pemikiran-pemikirannya antara lain terungkap dalam surat-suratnya yang ia kirimkan kepada sahabatnya, Nyonya Abendanon, yang kelak dikumpulkan menjadi sebuah buku dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) dan Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Kartini dinikahkan oleh orang tuanya dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri, pada 12 November 1903. Oleh suaminya, Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah perempuan. Kartini wafat beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya, yakni pada 17 September 1904.
Titiek Puspa, Pekerja Seni
Tak salah bila Alberthiene Endah memberi judul A Legendary Diva untuk biografi Titiek Puspa yang ia tulis. Ya, Titiek Puspa adalah salah satu penyanyi legendaris Indonesia, yang memiliki sumbangan begitu banyak bagi perjalanan bangsa ini, setidaknya dalam dunia tarik suara, meski ia juga membintangi sejumlah film layar lebar dan televisi. Perempuan kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, pada 1 November 1937 ini telah melahirkan banyak lagu yang gemanya tak hilang sampai puluhan tahun. Padahal, penyanyi yang punya nama asli Sumarti (dan sebelumnya Sudarwati dan Kadarwati) ini memulai karirnya sebagai penyanyi lagu Jawa di lingkungan tempat tinggalnya, meski keluarganya tidak mendukung. Itulah sebabnya, pada tahun 1954, ia mengikuti Lomba Bintang Radio Tingkat Jawa Tengah tanpa sepengetahuan orang tuanya dan ia berhasil menjadi juara untuk kategori hiburan. Kemenangan inilah yang membawa dirinya berkenalan dengan Sjaiful Bachri, pimpinan Orkes Simphony Djakarta, yang membuka jalan bagi Titiek untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Dan, nama Titiek Puspa itu ia gunakan untuk menyembunyikan identitasnya agar aktivitas menyanyinya tidak diketahui orang tuanya.
Ayah Titiek adalah seorang mantri kesehatan dan ibunya ibu rumah tangga yang sempat berdagang kue kecil-kecilan untuk membantu menafkahi keluarganya. Pada zaman Jepang, kehidupan keluarga ini benar-benar mengenaskan, sampai-sampai pernah makan rebusan kulit pisang dan Titiek Puspa pernah pula memakan roti yang telah dibuang oleh teman sekolahnya. Namun, berkat keyakinan dan keuletannya, Titiek Puspa akhirnya bisa menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah musik di Indonesia. ”Apa yang saya raih adalah anugerah Tuhan. Karena, sejak kecil, saya telah membangun dialog dengan Tuhan,” katanya pada sebuah kesempatan.
Oprah Winfrey, Presenter, Pengusaha
Oprah merupakan satu dari beberapa orang Amerika yang banyak menerima Emmy Award, atas kesuksesannya membawakan acara The Oprah Winfrey Show, talk show dengan rating tertinggi dalam sejarah pertelevisian dunia. Ia juga aktris yang pernah masuk dalam daftar nominator penerima Academy Award dan pemilik majalah O yang terkenal. Berkat semua prestasinya itu, Oprah kemudian menjadi orang Afro-Amerika paling kaya di dunia pada abad ke-20. “Rahasia besar dalam hidup ini adalah tidak adanya rahasia besar. Apa pun tujuan Anda, Anda dapat meraihnya jika Anda sungguh-sungguh bekerja,” tulis Oprah dalam salah satu edisi majalahnya.
Oprah lahir di Kosciusko, Mississippi, pada 29 January 1954 dari seorang ibu yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan ayah sempat menjadi tukang cukur rambut. Sampai umur enam tahun, Oprah dititipkan ke neneknya yang tinggal di sebuah desa miskin—yang mendidik Oprah dengan keras untuk mencintai buku dan menjadi penyanyi gereja. Setelah berusia enam tahun, ibunya membawa dia pindah ke Milwauke, Wisconsin, Amerika Serikat, tinggal di perkampungan kumuh. Toh, semua itu tak membuat Oprah kehilangan semangat untuk terus belajar. Malah, karena ketekunan dan kecerdasan otaknya, ia pada usia 13 tahun memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Nicolet High School. Dan seperti umumnya remaja Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an, Oprah mulai memberontak terhadap segala macam aturan yang ia anggap mengungkung. Ia kabur dari rumah dan hidup di jalanan. Akibat pergaulan bebasnya, pada usia 14 tahun, Oprah hamil, tapi bayinya kemudian meninggal tak lama setelah dilahirkan. Karena kesal melihat kelakuan Oprah, ibunya lalu mengirim dia ke ayahnya di Nashville, Tennessee. “Dari Ayahlah saya mulai belajar soal skala prioritas,” ungkap Oprah. Ia pun kembali ke sekolah dan kemudian menjadi murid yang dihormati karena prestasi dan keluwesan dalam bergaul. Lulus dari sekolah menengah, Oprah mendapat beasiswa di Tennessee State University—ia mengambil jurusan komunikasi. Setelah lulus kuliah dan bekerja sangat keras, perlahan-lahan Oprah mulai dapat memperbaiki kehidupan ekonominya sampai akhirnya sukses seperti yang kita kenal sekarang ini.
Retno Maruti, Penari
Siapa orang Indonesia dewasa yang tak kenal dengan nama penari ini? Setidaknya, namanya akrab dengan para penggemar seni di sini—bahkan juga di mancanegara. Hidupnya benar-benar didedikasikan untuk dunia tari, khususnya tari Jawa. Tak mengherankan jika Akademi Jakarta pada tahun 2005 lampau memberikan penghargaan life achievement kepada perempuan kelahiran Solo, Jawa Tengah, 8 Maret 1947 ini. ”Apa yang saya capai selama ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, baik dari team work maupun suami saya, yang memberikan kebebasan kepada diri saya untuk mendalami dan berkreasi dalam seni tari. Juga insan pers yang ikut andil dalam membesarkan nama saya,” begitu kira-kira yang diungkapkan Retno Maruti dalam pidatonya ketika mendapat penghargaan dari Akademi Jakarta tersebut.
Retno Maruti belajar tari sejak kecil, lewat bimbingan ayahnya yang berprofesi sebagai dalang, penari, dan dosen tari. Ketika berusia lima tahun, ia dimasukkan ke dalam perkumpulan seni Baluwarti. Setelah itu, ia banyak belajar dari pakar tari, antara lain dari R.T. Kusumokisowo dan Laksminto Rukmi. Sewaktu masih di SMP, Retno Maruti sudah terlibat dalam pergelaran tari Ramayana di Candi Prambanan. Namun, sampai lulus sekolah lanjutan atas dan berkuliah di Akademi Administrasi Negara, Retno belum berpikir untuk menjadi penari profesional, meski tari tak bisa dilepaskan dari kehidupannya sehari-hari. Pikirannya berubah setelah ia mendapat banyak undangan menari ke luar negeri, dalam usia yang masih relatif muda, belum lagi genap 20 tahun. Sepulang dari luar negeri, ia pun mulai mencipta tari. Lahirlah antara lain langendriyan Damarwulan pada tahun 1969, Abimanyu Gugur (1976), dan Roro Mendut (1977) dari jiwanya. Namanya pun berkibar-kibar di jagat tari Indonesia dan dunia.
Erica Hestu Wahyuni, Pelukis
Namanya sebagai pelukis menjadi begitu menonjol ketika ia memamerkan karya-karyanya yang bercorak naif, yang menampilkan sosok-sosok dan benda-benda dalam bentuk deformatif dengan gaya kekanakan, plus selalu ada sosok gajah di dalamnya. Karya-karyanya pun lalu menjadi obyek perburuan, baik oleh kolektor lukisan maupun spekulan. Toh, ia tak berpuas diri. Di tengah puncak popularitasnya, ia justru “melarikan” diri ke Rusia untuk mendalami grafito, fresco, dan mosaik. Pulang dari Rusia, ia melahirkan corak lukisan yang berbeda dengan gaya sebelumnya yang pernah ia tekuni. Meski banyak menuai kritik, Erica tetap bersemangat untuk melahirkan karya-karya baru. Ia seakan tak peduli mau diletakkan dalam kelompok apa oleh para kritikus seni rupa. ”Itu hak mereka. Toh, saya kini dapat menciptakan jendela-jendela sendiri di mana saya dapat berdiri di sana,” ujar Erica, seperti dikutip seorang pengamat seni lukis di sebuah media.
Perempuan kelahiran Yogya pada 1 Januari 1971 ini memang sejak kecil sudah punya keinginan kuat untuk menjadi pelukis. Semasa kecil, ia belajar dan tergabung dalam Pendidikan Melukis Anak-Anak Katamsi. Begitu lulus dari sekolah lanjutan atas pada tahun 1989, Erica pun memilih jurusan seni lukis di Institut Seni Indonesia-Yogyakarta untuk mewujudkan impian masa kanaknya. Dan, berkat kegigihan dan upayanya yang terus-menerus, mimpi itu pun menjadi kenyataan.
J.K. Rowling, Penulis Novel
Hampir bisa dipastikan, anak-anak sekolah dasar dan remaja di berbagai kota besar dunia mengenal Harry Potter. Kemungkinan besar, mereka juga mengenal pencipta tokoh rekaan tersebut, seorang ibu dari tiga anak yang lahir Chipping Sodbury, Inggris, pada 31 Juli 1965: Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowling. Nama Rowling menjadi sorotan berbagai media massa internasional ketika pada tahun 1999 tiga seri pertama novel Harry Potter menduduki tempat teratas daftar New York Times Best-Seller, setelah sebelumnya meraih kesuksesan di Inggris. Padahal, ia menulis buku itu karena desakan ekonomi, setelah bercerai dari seorang pria Portugal. ”Ide penulisan buku itu muncul sewaktu saya sedang dalam perjalanan menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990,” tuturnya. Namun, setelah novel itu selesai ditulis, Rowling mengalami beberapa penolakan, sampai akhirnya ada sebuah penerbit yang melihat mutiara terpendam dalam karyanya itu. Maka, dunia pun kemudian dilanda demam Harry Potter—terutama setelah novel itu diangkat ke layar lebar—dan Rowling masuk dalam daftar orang-orang kaya di jagat raya.
Pada Desember 2001, Rowling menikah kembali, dengan Dr. Neil Murray. Dari pernikahan ini, mereka telah dikarunian dua anak. ”Setelah selesai menulis serial Harry Potter, saya kini sedang mencoba menulis novel dengan suatu genre baru,” ujarnya.
Mira Lesmana, Filmmaker
Ketika perfilman Indonesia sedang mati suri di awal tahun 1990-an, Mira Lesmana mendirikan Miles Film Productions pada tahun 1995. Bersama beberapa temannya, ia kemudian memproduksi film Kuldesak, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai tonggak kebangkitan kembali film Indonesia. Anggapan itu benar. Karena, setelah film itu, Indonesia kembali diramaikan oleh film-film produksi anak negeri. Mira dan kawan-kawannya pun terus memproduksi film, antara lain Petualangan Sherina, Eliana Eliana, dan Ada Apa dengan Cinta. ”Kuldesak seperti efek bola gelinding. Ada penularan semangat. Kuldesak mungkin lebih dari attitude yang melawan prosedur, yang penting bikin film,” ujar ibu dari dua anak ini kepada sebuah media.
Perempuan yang lahir di Jakarta pada 8 Agustus 1964 ini alumni Institut Kesenian Jakarta. Ia mengambil jurusan penyutradaraan. Mira mengaku, sejak kecil ia memang gemar menonton film, yang semakin mengental setelah ia tinggal di Sydney, tahun 1979. Saking getolnya, kalau sedang hari libur, ia bisa menonton tiga film dalam sehari. Namun, keinginannya untuk membuat film muncul saat ia berusia 17 tahun, setelah menonton pemutaran ulang film 2001 Space Odissey karya Stanley Kubrick, The Wall karya Alan Parker, E.T. karya Steven Spielberg, dan Star Wars karya George Lucas. ”Empat film itu punya dimensi dan kekuatan yang berbeda dan saya merasakan bahwa film memiliki kekuatan yang dahsyat,” katanya kepada sebuah media. Buku-buku tentang penyutradaraan pun ia beli dan ia langsung menyatakan kepada ayahnya bahwa dirinya ingin menjadi orang film. Sang ayah menyetujui. Maka, selepas dari sekolah menengah atas, Mira pun mencari sekolah film di Australia. Ia mendaftar di Australian Film & Television School. Tapi, karena belum punya karya, ia tak bisa masuk ke sana. Maka, Mira pun akhirnya memilih Institut Kesenian Jakarta sebagai pelabuhannya. Toh, lulus dari IKJ, Mira justru bekerja di perusahaan periklanan, selama delapan tahun. Lepas dari dunia iklan mulailah ia menggeluti dunia film secara total. Sebelum berkiprah di layar lebar, Mira dan kawan-kawan sempat membuat beberapa karya untuk layar kaca, antara lain Anak Seribu Pulau, Enam Langkah, dan Buku Catatanku.
Madonna, Penyanyi, Aktris, Penulis
Dalam Guinness Book of Records edisi tahun 2007, Madonna dinobatkan sebagai “the highest earning female singer of all time”. Sebelumnya, pada tahun 2000, Guinness World Records mencatat Madonna sebagai perempuan artis rekaman paling sukses sepanjang masa, dengan perkiraan jumlah penjualan albumnya di seluruh dunia mencapai 120 juta keping. Di tengah berbagai sikapnya yang sering kontroversial, diva yang menganut ajaran Kabbalah ini memang patut diacungi banyak jempol saking begitu banyaknya prestasi yang ia telah capai. Namun, siapa sangka, ketika ia pertama kali tiba di New York pada tahun 1997, di kantongnya hanya ada uang US$35.
Lahir pada 16 Agustus 1958 di Bay City, Michigan, pemilik nama asli Madonna Louise Ciccone ini tumbuh di pinggiran kota industri mobil Amerika Serikat, Detroit. Bapaknya yang berdarah Italia bekerja sebagai teknisi Chrysler. Namun, Madonna telah menjadi piatu ketika usianya belum lagi genap enam tahun, karena ibunya meninggal dunia akibat kanker payudara. Di bawah dorongan ayahnya, Madonna kecil mulai belajar musik dan beberapa tahun kemudian ia meminta izin ayahnya untuk belajar balet. Pertunjukan baletnya yang pertama digelar di sebuah diskotek khusus kaum gay—yang di kemudian hari pertunjukan ini sangat memengaruhi musik dan gayanya. “Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki batas. Batas selalu merupakan pengaruh dari luar, dari orang-orang yang tidak yakin dengan diri mereka dan kemampuan mereka sendiri. Saya begitu yakin dengan diri saya. Saya tahu bahwa saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dan saya selalu akan meraih cita-cita saya,” ungkapnya.
Krisdayanti, Penyanyi
Perempuan kelahiran Batu, Malang, Jawa Timur pada 24 Maret 1975 ini memulai karirnya saat remaja, lewat pemilihan wajah sampul sebuah majalah. “Saya ingin mencari uang untuk membantu ibu saya,” demikian jawab Krisdayanti ketika seorang juri menanyakan alasannya ikut dalam ajang wajah sampul majalah itu. KD memang bukan berasal dari keluarga berada. Bahkan, ayah dan ibunya bercerai, sehingga ibunyalah yang berjuang membesarkan KD dan kakaknya, Yuni Shara. Pada tahun 1983, ketiga perempuan itu pindah ke sebuah rumah mungil di dalam gang becek di Jakarta, dari sebuah desa kecil di Jawa Timur. Mereka meyakini bahwa sebuah mimpi perlu diperjuangkan agar dapat diwujudkan dan setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan baik untuk mengubah nasib mereka. Dari ajang pemilihan wajah sampul majalah itu, sedikit demi sedikit nama KD mulai dikenal publik, meski ia bukan pemenangnya. Namanya semakin akrab di telinga masyarakat Indonesia setelah ia menjadi juara pertama Lomba Cipta Pesona Bintang dan juara utama Asia Bagus di Tokyo pada tahun 1992. Ia juga menyabet penghargaan artis muda berbakat dalam ajang Fidol Award Festival di Bucharest, Rumania. Sejak itu, bintang terang seakan terus menaungi dirinya dan publik menobatkan mantan istri Anang Hermansyah ini sebagai satu dari beberapa diva dalam jagat musik Indonesia.
Marilyn Monroe, Artis
Marilyn Monroe adalah ikon Hollywood yang terus bertahan sampai kini, meski masa jayanya dan kehidupannya di dunia ini telah berakhir puluhan tahun lampau. Bahkan, boleh dibilang, sepanjang abad ke-20 yang lalu, Marilyn Monroe adalah perempuan yang paling terkenal sejagat. Dia merupakan personifikasi dari kegemerlapan Hollywood dan energi yang memikat dunia. Meski cantik dan memiliki garis tubuh nan menggairahkan, perempuan yang lahir pada 1 Juni 1926 ini bukan sekadar dewi seks tahun 1950-an. Kehidupannya yang ringkih dan wajah inosen-nya, yang dikombinasikan dengan sensualitas bawaan, membuat sosoknya disukai banyak orang di seluruh dunia.
Namun, kesuksesannya lebih karena kegigihannya untuk memperbaiki nasibnya dan sikap positifnya dalam menjalani kehidupan, padahal ia berangkat dari masa kecil yang kurang menguntungkan. Ia lahir dari rahim Gladys Baker di Los Angeles, California, dengan ayah yang tak jelas. Awalnya, ia diberi nama Norma Jeane Mortenson, tapi kemudian diberi nama Norma Jeane Baker setelah dibaptis. Ibunya bekerja di dunia film, tapi kemudian mengalami gangguan mental, sehingga Marilyn Monroe kemudian tinggal di panti asuhan dan sempat diangkat anak oleh sebuah keluarga. Namun, ketika keluarga itu harus pindah kota, Marilyn dihadapkan kepada dua pilihan: kembali ke panti asuhan atau menikah, padahal usianya ketika itu 16 tahun. Maka, pada 19 Juni 1942, ia pun menikah dengan tetangganya yang baru berusia 21 tahun, Jimmy Dougherty. Karirnya sebagai foto model dan kemudian menjadi bintang film dimulai ketika ia harus bekerja di sebuah pabrik—karena suaminya bekerja di perusahaan pelayaran—dan dilihat oleh fotografer David Conover. Hanya dalam tempo dua tahun, karirnya sebagai model melesat. Tapi, ia belum puas karena ia ingin sekali menjadi bintang film. Marilyn pun mulai mempelajari kehidupan aktris legendaris Jean Harlow and Lana Turner serta ikut kursus akting. Dalam sebuah kesempatan wawancara, Marilyn Monroe mengatakan, “Saya tidak berkeberatan tinggal di sebuah dunia laki-laki selama saya bisa menjadi seorang perempuan di dalamnya.” Dan pada Agustus 1946, ia pun menandatangani kontrak pertamanya sebagai bintang film, beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Jimmy Dougherty. Setelah itu, namanya semakin berkibar-kibar, meski hidupnya relatif tak lama di dunia yang fana ini. Pedje
Karya tulis Pedje yang mudah-mudahan bisa menambah wawasan Anda, mulai dari seni, agama, psikologi, buku, budaya, sosial, kesehatan, jalan-jalan, sampai wawancara artis. Juga ada berbagai tips praktis untuk kesehatan mental dan sebagainya. Silakan dikutip atau dikopi asalkan alamat blog ini dicantumkan.
Showing posts with label Krisdayanti. Show all posts
Showing posts with label Krisdayanti. Show all posts
Sunday, September 12, 2010
Thursday, November 5, 2009
Mereka Datang dan Mereka Menang!
Ketiga perempuan ini pergi dari kampung halaman mereka dan berhasil mewujudkan impian masing-masing di Jakarta. Apa kunci sukses mereka?
Krisdayanti, 32 tahun, Penyanyi
“Dari Awal, Saya Memang Ingin Kaya”
Sudah punya album terbaru Krisdayanti terbaru? Lagu apa yang paling Anda sukai? “Kalau saya pribadi, saya suka lagi I’m Sorry Goodbye. Karena, di lagu ini, saya bernyanyi apa adanya. Dalam album terbaru ini, saya memang lebih mengutamakan kesederhanaan, yang lebih mencerminkan kematangan dalam berkesenian dan sosok perempuan yang yang berani melakukan transformasi,” kata perempuan yang lahir di Batu, Malang, Jawa Timur pada 24 Maret 1975 ini.
Memang, sudah sewajarnya Krisdayanti memasuki masa kematangan dalam karirnya sebagai pekerja seni. Sudah lebih dari 15 tahun Krisdayanti atau biasa disingkat KD ini berada jalur musik industri. Dan, dalam rentang waktu sepanjang itu, KD juga telah banyak mengukir prestasi. Istri dari Anang Hermansyah ini pernah menjadi juara Asia Bagus, sukses dalam penjualan beberapa albumnya (antara lain album Cahaya meraih double platinum), berbagai konsernya juga menuai sukses (termasuk konser di bawah bendera 3 Diva, bersama Titi Dj. dan Ruth Sahanaya), pernah menjadi perempuan penyanyi dengan bayaran termahal di Indonesia, dan menjadi ikon beberapa produk. Pendek kata, KD merupakan salah satu fenomena dalam industri musik di Tanah Air.
Namun, tak banyak orang yang tahu kalau KD memulai karirnya sebagai penyanyi dari sebuah rumah petak di bilangan Pal Batu, Menteng Dalam, Jakarta Selatan. “Ketika orang tua saya berpisah, saya dan kakak saya, Yuni Shara, dibawa Mama ke Jakarta, sekitar pertengahan tahun 1980-an. Saya waktu itu kelas empat SD dan kakak saya kelas enam. Mama bekerja dengan penghasilan pas-pasan dan lebih mengandalkan penghasilan dari tips untuk menghidupi kami. Kami tinggal di rumah petakan sempit, padahal sebelumnya kami tinggal di rumah Eyang yang cukup luas di Malang. Pada masa di Jakarta inilah Mama mulai mengikutkan saya pada berbagai festival menyanyi di berbagai tempat. Saya dapat uang jajan, ya, dari hadiah berbagai festival itu,” kenang KD.
Toh, meski berada dalam kondisi serba-terbatas, KD tak pernah pantang menyerah. “Saya pernah nongkrong seharian di Taman Buaya TVRI biar bisa dapat kesempatan tampil di TVRI. Memang, ketika itu, untuk bisa tampil di TV tidak mudah,” ujarnya sambil tersenyum. Tahun 1991, ia memberanikan diri untuk ikut pemilihan gadis sampul yang diadakan sebuah majalah remaja di Jakarta. KD terpilih sebagai finalis. “Saya tidak menang, tapi kemudian saya sering mendapat panggilan pemotretan dari pihak majalah remaja itu karena saya selalu berusaha untuk disiplin dan tepat waktu. Dua hal itu saya jaga benar, karena saya kan bukan orang kaya yang bisa sewaktu-waktu mengatur orang. Jadi, saya harus menghargai waktu dan juga tidak boleh malas, tidak boleh bergantung pada mood, karena bagi saya tak ada kesempatan yang datang dua kali. Saya juga yakin, kalau kita tekun, pasti Tuhan akan memberi jalan buat kita,” ungkapnya.
Lewat pemilihan gadis sampul itu dan kemudian karena wajahnya sering muncul di majalah remaja, nama KD mulai banyak dibicarakan orang. Perlahan, karirnya sebagai penyanyi pun mulai terangkat, apalagi setelah ia menjuarai Asia Bagus. Kesuksesan demi kesuksesan menghampiri hidupnya dan ia berhasil mewujudkan mimpinya di Jakarta. “Sejak awal meniti berkarir, saya berkeinginan kuat untuk bisa sukses juga secara materi, ingin kaya,” kenangnya. Mimpinya ini juga yang ikut mendorong KD untuk menjadi orang yang tak mudah patah dalam menghadapi tantangan dan tak mudah lelah dalam mengarungi putaran roda nasib. “Kata orang Jawa, saya ini pusarnya dua, jadi tak pernah capek, ha-ha-ha…,” katanya.
KD mengaku, selain disiplin dan menghargai waktu, yang paling berperan dalam kesuksesan karirnya adalah doa ibunya. “Karena, tak ada doa yang lebih mustajab daripada doa seorang ibu kepada anaknya. Itulah sebabnya, dulu, kalau mau ke luar rumah, saya pamitnya bisa sampai empat kali ke Mama,” ungkapnya. Selain itu, tambahnya, kunci kesuksesannya yang lain adalah kemampuannya untuk berempati kepada orang lain, bisa menghargai orang lain yang telah memberikan kontribusi kepada dirinya, sekecil apa pun kontribusi itu. “Selain itu, alhamdulillah, dari dulu saya memahami apa itu self-promo. Saya juga selalu berpikir positif dan hati-hati menata hidup, apalagi setelah berkeluarga dan memiliki anak,” ujar ibu dari Titania Aurelia Nurhermansyah dan Azriel Akbar Hermansyah ini.
Retna Widawati, 36 Tahun, Group Product Manager Sido Muncul
“Saya Bekerja di Jakarta Awalnya Tidak Sengaja”
Sejak remaja, ketika masih duduk di bangku SMA di Semarang, perempuan yang akrab dipanggil Wiwid ini sudah kenal dunia kerja. “Saya menjadi penyiar di salah satu radio di Semarang,” ujarnya. Profesi ini ia jalani terus sampai Wiwid menginjak semester 8 di Jurusan Administrasi Niaga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang. Setelah itu, ia bergabung dengan sebuah perusahaan periklanan di Semarang sebagai account executive. “Ketika bekerja di perusahaan iklan itulah pada suatu hari di tahun 1995, saya diminta atasan saya untuk tugas sementara di kantor perusahaan iklan itu yang ada di Jakarta, menggantikan senior saya yang sedang cuti hamil. Saya pun setuju. Karena, sebagai anak muda, saya memang punya keinginan untuk mencari pengalaman di Jakarta atau kota-kota besar lain, bahkan kalau bisa ingin kerja di luar negeri. Saya mulai bekerja di Jakarta pada 5 Februari 1995,” ujar perempuan berbintang Gemini ini.
Rupanya, atasan Wiwid terkesan dengan pencapaiannya selama bekerja di Jakarta. Maka, Wiwid pun diminta untuk tetap bekerja di Jakarta. “Saya setuju, karena saya mendapat kenaikan gaji, tunjangan tempat tinggal, dan tunjangan transportasi ke Semarang setiap tiga minggu. Selain itu, saya memang sangat senang dengan pekerjaan yang perhubungan dengan pemasaran. Jadi, bisa dibilang, saya bekerja di Jakarta sebenarnya secara tidak sengaja,” ungkap istri dari Wahyu Setiadi Waluyo ini.
Sempat orang tuanya meminta Wiwid untuk bekerja saja di Semarang, sebagai pegawai negeri, mengikuti jejak mereka. “Tapi, saya menolak. Karena, saya ingin tetap bekerja di jalur pemasaran, yang dari hari ke hari semakin menarik minat saya,” katanya. Rasa senangnya itu tentu saja berpengaruh positif pada kinerjanya. Buktinya, setelah sekitar empat tahun bekerja di perusahaan iklan itu, salah satu klien perusahaan iklan tersebut, PT Sido Muncul, meminta Wiwid untuk bergabung dengan mereka, tentunya dengan posisi dan fasilitas yang lebih baik daripada perusahaan lamanya. “Saya bergabung dengan Sido Muncul pada Juli 1999. Saya semakin bersemangat bekerja di sini karena setiap bulan harus pergi ke kampung halamannya saya Semarang, tempat pabrik Sidomuncul berlokasi,” tutur ibu dari Daffa Hanandito Nugroho ini.
Menurut Wiwid, apa yang telah ia capai selama ini di Jakarta tidak terlepas dari sikapnya yang selalu mencintai pekerjaannya. “Saya selalu bersemangat dalam bekerja dan konsisten dalam jalur yang saya pilih. Dalam bekerja, saya pun berupaya untuk tetap berkonsentrasi ketika menghadapi pekerjaan yang saya tangani dan meluangkan waktu untuk memikirkan langkah-langkah kreatif yang dapat membawa kemajuan pada pekerjaan saya. Selain itu, saya juga selalu bersikap loyal kepada perusahaan, dalam arti berpikir dan bertindak yang terbaik dan optimal untuk pekerjaan. Dan, di luar pekerjaan, saya tak lupa menyeimbangkan hidup saya, dengan cara bersenang-senang dengan teman-teman saya,” katanya.
Kendati senang bekerja di Jakarta, Wiwid mengungkapkan dirinya kemungkinan akan kembali tinggal di Semarang apabila telah masuk masa pensiun. “Jakarta itu menyenangkan, tapi macetnya itu, lo…. Waktu kita bisa habis di jalan, ha-ha-ha…,” ujar perempuan penyuka parfum Calvin Klein ini.
Natalia S. Tjahja, 36 Tahun, Pemilik Escalibur Travel Service
“Saya Suka Tantangan dan Membantu Orang Lain”
Lulus dari Fakultas Teknik Universitas Parahyangan, Bandung, pada tahun 1993, Natalia langsung pulang ke kampung halamannya, Semarang. “Di Semarang, saya kemudian bekerja di sebuah bank swasta. Namun, setelah sekitar setahun bekerja di sana, saya kemudian hijrah ke Jakarta pada pertengahan tahun 1994. Sesuai dengan latar belakang pendidikan saya sebagai sarjana teknik sipil, saya bekerja di sebuah perusahaan jasa konsultan teknik untuk pembangunan gedung,” ujarnya. Sekitar setahun bekerja di perusahaan itu, Natalia sudah mengetahui beragam hal tentang peluang bisnis yang bisa ia kerjakan di dunia properti. Maka, pada tahun 1995, ia pun mulai berkiprah sebagai pemasok bahan dan peralatan teknis untuk suatu proyek pembangunan gedung.
Namun, dunia kerja dan dunia bisnis terpaksa ia tinggalkan ketika ia pada tahun 1996 mengikat janji dalam mahligai pernikahan. “Tanggal 5 Juli 1998, saya melahirkan Maria Monique. Dan, setahun kemudian, tahun 1999, didorong oleh keinginan untuk membantu orang, saya mendirikan agen perjalanan di rumah, yang namanya saya ambil dari nama pedang legendaris milik King Arthur, Escalibur,” ungkapnya. Padahal, Natalia mengaku, tak punya pengalaman sama sekali dalam bidang itu. “Saya melakukan usaha ini karena semata-mata tertarik dengan penjualan tiket air line. Karena itu, saya juga tak terlalu memikirkan keuntungan. Saya senang membantu orang. Saya lebih banyak memikirkan pelayanan, servis, kepada orang yang membutuhkan jasa perusahaan kami,” tuturnya.
Dorongan untuk menolong orang lain itulah yang membuat Natalia tak sekadar menjual tiket pesawat terbang. Ia dengan sepenuh hati juga membantu pembeli tiket itu jika mereka mengalami kesulitan dalam perjalanannya. “Saya juga sampai mengurus visa dan sebagainya, yang tak dilakukan oleh agen perjalanan lain. Karena, pada dasarnya, saya juga suka tantangan,” ujar perempuan yang kini berkantor di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan ini. Dengan cara kerja seperti itu, tak mengherankan bila kemudian Escalibur dipercaya untuk mengurus misi dagang Indonesia ke Singapura. “Padahal, waktu itu, Escalibur baru berdiri tiga bulan. Memang, ketika itu, bendera yang dipakai bukan Escalibur, tapi memakai bendera agen perjalan lain,” ungkapnya.
Sejak itulah, Escalibur mulai banyak diminta membantu berbagai misi dagang Indonesia di luar negeri. “Kami pernah membantu misi dagang yang dipimpin Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M.S. Soewandi waktu itu. Kami juga yang mengurus rombongannya. Jadi, pekerjaan Escalibur ini mirip juga dengan pekerjaan event organiser,” tuturnya. Natalia pun akhirnya berpikir bahwa apa yang ia kerjakan itu memang berbeda dengan pekerjaan travel agent yang ada. “Karena itu, kami lebih suka menyebut Escalibur itu sebagai travel service ketimbang travel agent. Bahkan, kami juga menangani berbagai keperluan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri. Dan, saya benar-benar tak begitu memikirkan profit. Malah, tak jarang saya nombok, mengalami kerugian,” katanya.
Namun, sikapnya yang tidak memikirkan keuntungan itu akhirnya sedikit berubah ketika anak semata wayangnya, Maria Monique, mengembuskan napas terakhir pada 27 Maret 2006 lalu di sebuah rumah sakit di Singapura. “Monique terserang penyakit ganas, yang diawali dengan suhu tubuh yang tinggi. Selama dalam perawatan, Monique sempat mengalami tiga kali mati suri, tetapi kemudian hidup kembali. Dengan sisa hidupnya yang hanya 40 hari, Monique menarik simpati media-media Singapura. The Strait Times Singapura menyebut Monique sebagai The Miracle Child. Namun, Tuhan punya kehendak lain, Dia memanggil Monique pada 27 Maret 2006 lalu. Sebelum wafatnya, ia sempat meminta saya untuk menolong anak-anak yang menderita. ‘Mami, tolonglah anak-anak yang menderita,’ katanya. Monique semasa hidupnya memang anak yang cerdas, ceria, dan suka menolong,” tutur Natalia sambil mengusap air mata. Tepat seratus hari kematian Monique, ketika Natalia sedang menabur abu jenazah putrinya itu, ia kembali teringat pesan terakhir Monique. Maka, ia pun lalu mendirikan Yayasan Maria Monique Last Wish. “Yayasan ini antara lain bertujuan membantu meringankan beban anak-anak berusia 5-15 tahun yang berpenyakit kritis atau berpenyakit kompleks dan mewujudkan keinginan anak-anak seusia itu, yang berasal dari keluarga tak mampu, yang menderita penyakit kritis atau kronis, yang tidak ada obatnya, dan menurut dokter sudah tidak ada harapan hidup lagi tetapi masih punya semangat hidup yang besar. Info lengkap tentang yayasan ini bisa dilihat di www.mariamonique.org,” ujar Natalia bersemangat.
Setelah berdirinya yayasan itulah Natalia mulai lebih serius memikirkan keuntungan bagi Escalibur. “Karena, saya mengalokasikan sebagian dari keuntungan Escalibur untuk kepentingan Yayasan Maria Monique Last Wish. Kini, selain menangani pelanggan individu, kami juga menangani travel service untuk banyak perusahaan dan lembaga pemerintahan, antara lain Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Dalam Negeri, dan Komisi Pemberantasan Korupsi,” ungkapnya sambil tersenyum. (Pedje)
Krisdayanti, 32 tahun, Penyanyi
“Dari Awal, Saya Memang Ingin Kaya”
Sudah punya album terbaru Krisdayanti terbaru? Lagu apa yang paling Anda sukai? “Kalau saya pribadi, saya suka lagi I’m Sorry Goodbye. Karena, di lagu ini, saya bernyanyi apa adanya. Dalam album terbaru ini, saya memang lebih mengutamakan kesederhanaan, yang lebih mencerminkan kematangan dalam berkesenian dan sosok perempuan yang yang berani melakukan transformasi,” kata perempuan yang lahir di Batu, Malang, Jawa Timur pada 24 Maret 1975 ini.
Memang, sudah sewajarnya Krisdayanti memasuki masa kematangan dalam karirnya sebagai pekerja seni. Sudah lebih dari 15 tahun Krisdayanti atau biasa disingkat KD ini berada jalur musik industri. Dan, dalam rentang waktu sepanjang itu, KD juga telah banyak mengukir prestasi. Istri dari Anang Hermansyah ini pernah menjadi juara Asia Bagus, sukses dalam penjualan beberapa albumnya (antara lain album Cahaya meraih double platinum), berbagai konsernya juga menuai sukses (termasuk konser di bawah bendera 3 Diva, bersama Titi Dj. dan Ruth Sahanaya), pernah menjadi perempuan penyanyi dengan bayaran termahal di Indonesia, dan menjadi ikon beberapa produk. Pendek kata, KD merupakan salah satu fenomena dalam industri musik di Tanah Air.
Namun, tak banyak orang yang tahu kalau KD memulai karirnya sebagai penyanyi dari sebuah rumah petak di bilangan Pal Batu, Menteng Dalam, Jakarta Selatan. “Ketika orang tua saya berpisah, saya dan kakak saya, Yuni Shara, dibawa Mama ke Jakarta, sekitar pertengahan tahun 1980-an. Saya waktu itu kelas empat SD dan kakak saya kelas enam. Mama bekerja dengan penghasilan pas-pasan dan lebih mengandalkan penghasilan dari tips untuk menghidupi kami. Kami tinggal di rumah petakan sempit, padahal sebelumnya kami tinggal di rumah Eyang yang cukup luas di Malang. Pada masa di Jakarta inilah Mama mulai mengikutkan saya pada berbagai festival menyanyi di berbagai tempat. Saya dapat uang jajan, ya, dari hadiah berbagai festival itu,” kenang KD.
Toh, meski berada dalam kondisi serba-terbatas, KD tak pernah pantang menyerah. “Saya pernah nongkrong seharian di Taman Buaya TVRI biar bisa dapat kesempatan tampil di TVRI. Memang, ketika itu, untuk bisa tampil di TV tidak mudah,” ujarnya sambil tersenyum. Tahun 1991, ia memberanikan diri untuk ikut pemilihan gadis sampul yang diadakan sebuah majalah remaja di Jakarta. KD terpilih sebagai finalis. “Saya tidak menang, tapi kemudian saya sering mendapat panggilan pemotretan dari pihak majalah remaja itu karena saya selalu berusaha untuk disiplin dan tepat waktu. Dua hal itu saya jaga benar, karena saya kan bukan orang kaya yang bisa sewaktu-waktu mengatur orang. Jadi, saya harus menghargai waktu dan juga tidak boleh malas, tidak boleh bergantung pada mood, karena bagi saya tak ada kesempatan yang datang dua kali. Saya juga yakin, kalau kita tekun, pasti Tuhan akan memberi jalan buat kita,” ungkapnya.
Lewat pemilihan gadis sampul itu dan kemudian karena wajahnya sering muncul di majalah remaja, nama KD mulai banyak dibicarakan orang. Perlahan, karirnya sebagai penyanyi pun mulai terangkat, apalagi setelah ia menjuarai Asia Bagus. Kesuksesan demi kesuksesan menghampiri hidupnya dan ia berhasil mewujudkan mimpinya di Jakarta. “Sejak awal meniti berkarir, saya berkeinginan kuat untuk bisa sukses juga secara materi, ingin kaya,” kenangnya. Mimpinya ini juga yang ikut mendorong KD untuk menjadi orang yang tak mudah patah dalam menghadapi tantangan dan tak mudah lelah dalam mengarungi putaran roda nasib. “Kata orang Jawa, saya ini pusarnya dua, jadi tak pernah capek, ha-ha-ha…,” katanya.
KD mengaku, selain disiplin dan menghargai waktu, yang paling berperan dalam kesuksesan karirnya adalah doa ibunya. “Karena, tak ada doa yang lebih mustajab daripada doa seorang ibu kepada anaknya. Itulah sebabnya, dulu, kalau mau ke luar rumah, saya pamitnya bisa sampai empat kali ke Mama,” ungkapnya. Selain itu, tambahnya, kunci kesuksesannya yang lain adalah kemampuannya untuk berempati kepada orang lain, bisa menghargai orang lain yang telah memberikan kontribusi kepada dirinya, sekecil apa pun kontribusi itu. “Selain itu, alhamdulillah, dari dulu saya memahami apa itu self-promo. Saya juga selalu berpikir positif dan hati-hati menata hidup, apalagi setelah berkeluarga dan memiliki anak,” ujar ibu dari Titania Aurelia Nurhermansyah dan Azriel Akbar Hermansyah ini.
Retna Widawati, 36 Tahun, Group Product Manager Sido Muncul
“Saya Bekerja di Jakarta Awalnya Tidak Sengaja”
Sejak remaja, ketika masih duduk di bangku SMA di Semarang, perempuan yang akrab dipanggil Wiwid ini sudah kenal dunia kerja. “Saya menjadi penyiar di salah satu radio di Semarang,” ujarnya. Profesi ini ia jalani terus sampai Wiwid menginjak semester 8 di Jurusan Administrasi Niaga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang. Setelah itu, ia bergabung dengan sebuah perusahaan periklanan di Semarang sebagai account executive. “Ketika bekerja di perusahaan iklan itulah pada suatu hari di tahun 1995, saya diminta atasan saya untuk tugas sementara di kantor perusahaan iklan itu yang ada di Jakarta, menggantikan senior saya yang sedang cuti hamil. Saya pun setuju. Karena, sebagai anak muda, saya memang punya keinginan untuk mencari pengalaman di Jakarta atau kota-kota besar lain, bahkan kalau bisa ingin kerja di luar negeri. Saya mulai bekerja di Jakarta pada 5 Februari 1995,” ujar perempuan berbintang Gemini ini.
Rupanya, atasan Wiwid terkesan dengan pencapaiannya selama bekerja di Jakarta. Maka, Wiwid pun diminta untuk tetap bekerja di Jakarta. “Saya setuju, karena saya mendapat kenaikan gaji, tunjangan tempat tinggal, dan tunjangan transportasi ke Semarang setiap tiga minggu. Selain itu, saya memang sangat senang dengan pekerjaan yang perhubungan dengan pemasaran. Jadi, bisa dibilang, saya bekerja di Jakarta sebenarnya secara tidak sengaja,” ungkap istri dari Wahyu Setiadi Waluyo ini.
Sempat orang tuanya meminta Wiwid untuk bekerja saja di Semarang, sebagai pegawai negeri, mengikuti jejak mereka. “Tapi, saya menolak. Karena, saya ingin tetap bekerja di jalur pemasaran, yang dari hari ke hari semakin menarik minat saya,” katanya. Rasa senangnya itu tentu saja berpengaruh positif pada kinerjanya. Buktinya, setelah sekitar empat tahun bekerja di perusahaan iklan itu, salah satu klien perusahaan iklan tersebut, PT Sido Muncul, meminta Wiwid untuk bergabung dengan mereka, tentunya dengan posisi dan fasilitas yang lebih baik daripada perusahaan lamanya. “Saya bergabung dengan Sido Muncul pada Juli 1999. Saya semakin bersemangat bekerja di sini karena setiap bulan harus pergi ke kampung halamannya saya Semarang, tempat pabrik Sidomuncul berlokasi,” tutur ibu dari Daffa Hanandito Nugroho ini.
Menurut Wiwid, apa yang telah ia capai selama ini di Jakarta tidak terlepas dari sikapnya yang selalu mencintai pekerjaannya. “Saya selalu bersemangat dalam bekerja dan konsisten dalam jalur yang saya pilih. Dalam bekerja, saya pun berupaya untuk tetap berkonsentrasi ketika menghadapi pekerjaan yang saya tangani dan meluangkan waktu untuk memikirkan langkah-langkah kreatif yang dapat membawa kemajuan pada pekerjaan saya. Selain itu, saya juga selalu bersikap loyal kepada perusahaan, dalam arti berpikir dan bertindak yang terbaik dan optimal untuk pekerjaan. Dan, di luar pekerjaan, saya tak lupa menyeimbangkan hidup saya, dengan cara bersenang-senang dengan teman-teman saya,” katanya.
Kendati senang bekerja di Jakarta, Wiwid mengungkapkan dirinya kemungkinan akan kembali tinggal di Semarang apabila telah masuk masa pensiun. “Jakarta itu menyenangkan, tapi macetnya itu, lo…. Waktu kita bisa habis di jalan, ha-ha-ha…,” ujar perempuan penyuka parfum Calvin Klein ini.
Natalia S. Tjahja, 36 Tahun, Pemilik Escalibur Travel Service
“Saya Suka Tantangan dan Membantu Orang Lain”
Lulus dari Fakultas Teknik Universitas Parahyangan, Bandung, pada tahun 1993, Natalia langsung pulang ke kampung halamannya, Semarang. “Di Semarang, saya kemudian bekerja di sebuah bank swasta. Namun, setelah sekitar setahun bekerja di sana, saya kemudian hijrah ke Jakarta pada pertengahan tahun 1994. Sesuai dengan latar belakang pendidikan saya sebagai sarjana teknik sipil, saya bekerja di sebuah perusahaan jasa konsultan teknik untuk pembangunan gedung,” ujarnya. Sekitar setahun bekerja di perusahaan itu, Natalia sudah mengetahui beragam hal tentang peluang bisnis yang bisa ia kerjakan di dunia properti. Maka, pada tahun 1995, ia pun mulai berkiprah sebagai pemasok bahan dan peralatan teknis untuk suatu proyek pembangunan gedung.
Namun, dunia kerja dan dunia bisnis terpaksa ia tinggalkan ketika ia pada tahun 1996 mengikat janji dalam mahligai pernikahan. “Tanggal 5 Juli 1998, saya melahirkan Maria Monique. Dan, setahun kemudian, tahun 1999, didorong oleh keinginan untuk membantu orang, saya mendirikan agen perjalanan di rumah, yang namanya saya ambil dari nama pedang legendaris milik King Arthur, Escalibur,” ungkapnya. Padahal, Natalia mengaku, tak punya pengalaman sama sekali dalam bidang itu. “Saya melakukan usaha ini karena semata-mata tertarik dengan penjualan tiket air line. Karena itu, saya juga tak terlalu memikirkan keuntungan. Saya senang membantu orang. Saya lebih banyak memikirkan pelayanan, servis, kepada orang yang membutuhkan jasa perusahaan kami,” tuturnya.
Dorongan untuk menolong orang lain itulah yang membuat Natalia tak sekadar menjual tiket pesawat terbang. Ia dengan sepenuh hati juga membantu pembeli tiket itu jika mereka mengalami kesulitan dalam perjalanannya. “Saya juga sampai mengurus visa dan sebagainya, yang tak dilakukan oleh agen perjalanan lain. Karena, pada dasarnya, saya juga suka tantangan,” ujar perempuan yang kini berkantor di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan ini. Dengan cara kerja seperti itu, tak mengherankan bila kemudian Escalibur dipercaya untuk mengurus misi dagang Indonesia ke Singapura. “Padahal, waktu itu, Escalibur baru berdiri tiga bulan. Memang, ketika itu, bendera yang dipakai bukan Escalibur, tapi memakai bendera agen perjalan lain,” ungkapnya.
Sejak itulah, Escalibur mulai banyak diminta membantu berbagai misi dagang Indonesia di luar negeri. “Kami pernah membantu misi dagang yang dipimpin Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M.S. Soewandi waktu itu. Kami juga yang mengurus rombongannya. Jadi, pekerjaan Escalibur ini mirip juga dengan pekerjaan event organiser,” tuturnya. Natalia pun akhirnya berpikir bahwa apa yang ia kerjakan itu memang berbeda dengan pekerjaan travel agent yang ada. “Karena itu, kami lebih suka menyebut Escalibur itu sebagai travel service ketimbang travel agent. Bahkan, kami juga menangani berbagai keperluan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri. Dan, saya benar-benar tak begitu memikirkan profit. Malah, tak jarang saya nombok, mengalami kerugian,” katanya.
Namun, sikapnya yang tidak memikirkan keuntungan itu akhirnya sedikit berubah ketika anak semata wayangnya, Maria Monique, mengembuskan napas terakhir pada 27 Maret 2006 lalu di sebuah rumah sakit di Singapura. “Monique terserang penyakit ganas, yang diawali dengan suhu tubuh yang tinggi. Selama dalam perawatan, Monique sempat mengalami tiga kali mati suri, tetapi kemudian hidup kembali. Dengan sisa hidupnya yang hanya 40 hari, Monique menarik simpati media-media Singapura. The Strait Times Singapura menyebut Monique sebagai The Miracle Child. Namun, Tuhan punya kehendak lain, Dia memanggil Monique pada 27 Maret 2006 lalu. Sebelum wafatnya, ia sempat meminta saya untuk menolong anak-anak yang menderita. ‘Mami, tolonglah anak-anak yang menderita,’ katanya. Monique semasa hidupnya memang anak yang cerdas, ceria, dan suka menolong,” tutur Natalia sambil mengusap air mata. Tepat seratus hari kematian Monique, ketika Natalia sedang menabur abu jenazah putrinya itu, ia kembali teringat pesan terakhir Monique. Maka, ia pun lalu mendirikan Yayasan Maria Monique Last Wish. “Yayasan ini antara lain bertujuan membantu meringankan beban anak-anak berusia 5-15 tahun yang berpenyakit kritis atau berpenyakit kompleks dan mewujudkan keinginan anak-anak seusia itu, yang berasal dari keluarga tak mampu, yang menderita penyakit kritis atau kronis, yang tidak ada obatnya, dan menurut dokter sudah tidak ada harapan hidup lagi tetapi masih punya semangat hidup yang besar. Info lengkap tentang yayasan ini bisa dilihat di www.mariamonique.org,” ujar Natalia bersemangat.
Setelah berdirinya yayasan itulah Natalia mulai lebih serius memikirkan keuntungan bagi Escalibur. “Karena, saya mengalokasikan sebagian dari keuntungan Escalibur untuk kepentingan Yayasan Maria Monique Last Wish. Kini, selain menangani pelanggan individu, kami juga menangani travel service untuk banyak perusahaan dan lembaga pemerintahan, antara lain Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Dalam Negeri, dan Komisi Pemberantasan Korupsi,” ungkapnya sambil tersenyum. (Pedje)
Subscribe to:
Comments (Atom)