Showing posts with label Kartini. Show all posts
Showing posts with label Kartini. Show all posts

Sunday, September 12, 2010

Karena Hidup Tak Bisa Menunggu...

Hidup, kata penyair Rendra dalam sebuah sajaknya, tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh, tapi justru untuk bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan samudra, serta mencipta dan mengukir dunia. Kurang-lebihnya, itulah yang dilakukan oleh sepuluh perempuan ini, yang saya amati perjalanan hidupnya lewat berbagai sumber.

Dilihat dari perjalanan karir dan aktivitas masing-masing, mereka tampaknya menyadari benar bahwa hidup tidak bisa menunggu. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk meraih kehidupan seperti yang mereka inginkan. Mungkin Anda dapat memetik pelajaran dari perjalanan hidup mereka, yang telah membawa pengaruh yang relatif besar pada kehidupan banyak orang, baik dalam skala lokal maupun internasional.

R.A. Kartini, Pejuang Kebangsaan
Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 untuk menetapkan Raden Ajeng Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Dalam keputusan itu juga ditetapkan hari lahir Kartini, 21 April, sebagai hari besar, yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Radeng Ajeng atau Raden Ayu Kartini memang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari pasangan Raden Mas Sosroningrat yang Bupati Jepara dan M.A. Ngasirah. Kartini adalah anak kelima dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europese Lagere School, yang antara lain belajar bahasa Belanda. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang ia baca, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa dan ia ingin memajukan rakyat sebangsanya, yang pada masanya masih banyak yang belum berpendidikan. Ia juga aktif membuka kesadaran kaum pelajar pribumi agar mencintai tanah airnya. Pemikiran-pemikirannya antara lain terungkap dalam surat-suratnya yang ia kirimkan kepada sahabatnya, Nyonya Abendanon, yang kelak dikumpulkan menjadi sebuah buku dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) dan Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Kartini dinikahkan oleh orang tuanya dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri, pada 12 November 1903. Oleh suaminya, Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah perempuan. Kartini wafat beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya, yakni pada 17 September 1904.


Titiek Puspa, Pekerja Seni
Tak salah bila Alberthiene Endah memberi judul A Legendary Diva untuk biografi Titiek Puspa yang ia tulis. Ya, Titiek Puspa adalah salah satu penyanyi legendaris Indonesia, yang memiliki sumbangan begitu banyak bagi perjalanan bangsa ini, setidaknya dalam dunia tarik suara, meski ia juga membintangi sejumlah film layar lebar dan televisi. Perempuan kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, pada 1 November 1937 ini telah melahirkan banyak lagu yang gemanya tak hilang sampai puluhan tahun. Padahal, penyanyi yang punya nama asli Sumarti (dan sebelumnya Sudarwati dan Kadarwati) ini memulai karirnya sebagai penyanyi lagu Jawa di lingkungan tempat tinggalnya, meski keluarganya tidak mendukung. Itulah sebabnya, pada tahun 1954, ia mengikuti Lomba Bintang Radio Tingkat Jawa Tengah tanpa sepengetahuan orang tuanya dan ia berhasil menjadi juara untuk kategori hiburan. Kemenangan inilah yang membawa dirinya berkenalan dengan Sjaiful Bachri, pimpinan Orkes Simphony Djakarta, yang membuka jalan bagi Titiek untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Dan, nama Titiek Puspa itu ia gunakan untuk menyembunyikan identitasnya agar aktivitas menyanyinya tidak diketahui orang tuanya.

Ayah Titiek adalah seorang mantri kesehatan dan ibunya ibu rumah tangga yang sempat berdagang kue kecil-kecilan untuk membantu menafkahi keluarganya. Pada zaman Jepang, kehidupan keluarga ini benar-benar mengenaskan, sampai-sampai pernah makan rebusan kulit pisang dan Titiek Puspa pernah pula memakan roti yang telah dibuang oleh teman sekolahnya. Namun, berkat keyakinan dan keuletannya, Titiek Puspa akhirnya bisa menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah musik di Indonesia. ”Apa yang saya raih adalah anugerah Tuhan. Karena, sejak kecil, saya telah membangun dialog dengan Tuhan,” katanya pada sebuah kesempatan.

Oprah Winfrey, Presenter, Pengusaha
Oprah merupakan satu dari beberapa orang Amerika yang banyak menerima Emmy Award, atas kesuksesannya membawakan acara The Oprah Winfrey Show, talk show dengan rating tertinggi dalam sejarah pertelevisian dunia. Ia juga aktris yang pernah masuk dalam daftar nominator penerima Academy Award dan pemilik majalah O yang terkenal. Berkat semua prestasinya itu, Oprah kemudian menjadi orang Afro-Amerika paling kaya di dunia pada abad ke-20. “Rahasia besar dalam hidup ini adalah tidak adanya rahasia besar. Apa pun tujuan Anda, Anda dapat meraihnya jika Anda sungguh-sungguh bekerja,” tulis Oprah dalam salah satu edisi majalahnya.

Oprah lahir di Kosciusko, Mississippi, pada 29 January 1954 dari seorang ibu yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan ayah sempat menjadi tukang cukur rambut. Sampai umur enam tahun, Oprah dititipkan ke neneknya yang tinggal di sebuah desa miskin—yang mendidik Oprah dengan keras untuk mencintai buku dan menjadi penyanyi gereja. Setelah berusia enam tahun, ibunya membawa dia pindah ke Milwauke, Wisconsin, Amerika Serikat, tinggal di perkampungan kumuh. Toh, semua itu tak membuat Oprah kehilangan semangat untuk terus belajar. Malah, karena ketekunan dan kecerdasan otaknya, ia pada usia 13 tahun memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Nicolet High School. Dan seperti umumnya remaja Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an, Oprah mulai memberontak terhadap segala macam aturan yang ia anggap mengungkung. Ia kabur dari rumah dan hidup di jalanan. Akibat pergaulan bebasnya, pada usia 14 tahun, Oprah hamil, tapi bayinya kemudian meninggal tak lama setelah dilahirkan. Karena kesal melihat kelakuan Oprah, ibunya lalu mengirim dia ke ayahnya di Nashville, Tennessee. “Dari Ayahlah saya mulai belajar soal skala prioritas,” ungkap Oprah. Ia pun kembali ke sekolah dan kemudian menjadi murid yang dihormati karena prestasi dan keluwesan dalam bergaul. Lulus dari sekolah menengah, Oprah mendapat beasiswa di Tennessee State University—ia mengambil jurusan komunikasi. Setelah lulus kuliah dan bekerja sangat keras, perlahan-lahan Oprah mulai dapat memperbaiki kehidupan ekonominya sampai akhirnya sukses seperti yang kita kenal sekarang ini.

Retno Maruti, Penari
Siapa orang Indonesia dewasa yang tak kenal dengan nama penari ini? Setidaknya, namanya akrab dengan para penggemar seni di sini—bahkan juga di mancanegara. Hidupnya benar-benar didedikasikan untuk dunia tari, khususnya tari Jawa. Tak mengherankan jika Akademi Jakarta pada tahun 2005 lampau memberikan penghargaan life achievement kepada perempuan kelahiran Solo, Jawa Tengah, 8 Maret 1947 ini. ”Apa yang saya capai selama ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, baik dari team work maupun suami saya, yang memberikan kebebasan kepada diri saya untuk mendalami dan berkreasi dalam seni tari. Juga insan pers yang ikut andil dalam membesarkan nama saya,” begitu kira-kira yang diungkapkan Retno Maruti dalam pidatonya ketika mendapat penghargaan dari Akademi Jakarta tersebut.

Retno Maruti belajar tari sejak kecil, lewat bimbingan ayahnya yang berprofesi sebagai dalang, penari, dan dosen tari. Ketika berusia lima tahun, ia dimasukkan ke dalam perkumpulan seni Baluwarti. Setelah itu, ia banyak belajar dari pakar tari, antara lain dari R.T. Kusumokisowo dan Laksminto Rukmi. Sewaktu masih di SMP, Retno Maruti sudah terlibat dalam pergelaran tari Ramayana di Candi Prambanan. Namun, sampai lulus sekolah lanjutan atas dan berkuliah di Akademi Administrasi Negara, Retno belum berpikir untuk menjadi penari profesional, meski tari tak bisa dilepaskan dari kehidupannya sehari-hari. Pikirannya berubah setelah ia mendapat banyak undangan menari ke luar negeri, dalam usia yang masih relatif muda, belum lagi genap 20 tahun. Sepulang dari luar negeri, ia pun mulai mencipta tari. Lahirlah antara lain langendriyan Damarwulan pada tahun 1969, Abimanyu Gugur (1976), dan Roro Mendut (1977) dari jiwanya. Namanya pun berkibar-kibar di jagat tari Indonesia dan dunia.

Erica Hestu Wahyuni, Pelukis
Namanya sebagai pelukis menjadi begitu menonjol ketika ia memamerkan karya-karyanya yang bercorak naif, yang menampilkan sosok-sosok dan benda-benda dalam bentuk deformatif dengan gaya kekanakan, plus selalu ada sosok gajah di dalamnya. Karya-karyanya pun lalu menjadi obyek perburuan, baik oleh kolektor lukisan maupun spekulan. Toh, ia tak berpuas diri. Di tengah puncak popularitasnya, ia justru “melarikan” diri ke Rusia untuk mendalami grafito, fresco, dan mosaik. Pulang dari Rusia, ia melahirkan corak lukisan yang berbeda dengan gaya sebelumnya yang pernah ia tekuni. Meski banyak menuai kritik, Erica tetap bersemangat untuk melahirkan karya-karya baru. Ia seakan tak peduli mau diletakkan dalam kelompok apa oleh para kritikus seni rupa. ”Itu hak mereka. Toh, saya kini dapat menciptakan jendela-jendela sendiri di mana saya dapat berdiri di sana,” ujar Erica, seperti dikutip seorang pengamat seni lukis di sebuah media.

Perempuan kelahiran Yogya pada 1 Januari 1971 ini memang sejak kecil sudah punya keinginan kuat untuk menjadi pelukis. Semasa kecil, ia belajar dan tergabung dalam Pendidikan Melukis Anak-Anak Katamsi. Begitu lulus dari sekolah lanjutan atas pada tahun 1989, Erica pun memilih jurusan seni lukis di Institut Seni Indonesia-Yogyakarta untuk mewujudkan impian masa kanaknya. Dan, berkat kegigihan dan upayanya yang terus-menerus, mimpi itu pun menjadi kenyataan.

J.K. Rowling, Penulis Novel
Hampir bisa dipastikan, anak-anak sekolah dasar dan remaja di berbagai kota besar dunia mengenal Harry Potter. Kemungkinan besar, mereka juga mengenal pencipta tokoh rekaan tersebut, seorang ibu dari tiga anak yang lahir Chipping Sodbury, Inggris, pada 31 Juli 1965: Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowling. Nama Rowling menjadi sorotan berbagai media massa internasional ketika pada tahun 1999 tiga seri pertama novel Harry Potter menduduki tempat teratas daftar New York Times Best-Seller, setelah sebelumnya meraih kesuksesan di Inggris. Padahal, ia menulis buku itu karena desakan ekonomi, setelah bercerai dari seorang pria Portugal. ”Ide penulisan buku itu muncul sewaktu saya sedang dalam perjalanan menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990,” tuturnya. Namun, setelah novel itu selesai ditulis, Rowling mengalami beberapa penolakan, sampai akhirnya ada sebuah penerbit yang melihat mutiara terpendam dalam karyanya itu. Maka, dunia pun kemudian dilanda demam Harry Potter—terutama setelah novel itu diangkat ke layar lebar—dan Rowling masuk dalam daftar orang-orang kaya di jagat raya.

Pada Desember 2001, Rowling menikah kembali, dengan Dr. Neil Murray. Dari pernikahan ini, mereka telah dikarunian dua anak. ”Setelah selesai menulis serial Harry Potter, saya kini sedang mencoba menulis novel dengan suatu genre baru,” ujarnya.

Mira Lesmana, Filmmaker
Ketika perfilman Indonesia sedang mati suri di awal tahun 1990-an, Mira Lesmana mendirikan Miles Film Productions pada tahun 1995. Bersama beberapa temannya, ia kemudian memproduksi film Kuldesak, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai tonggak kebangkitan kembali film Indonesia. Anggapan itu benar. Karena, setelah film itu, Indonesia kembali diramaikan oleh film-film produksi anak negeri. Mira dan kawan-kawannya pun terus memproduksi film, antara lain Petualangan Sherina, Eliana Eliana, dan Ada Apa dengan Cinta. ”Kuldesak seperti efek bola gelinding. Ada penularan semangat. Kuldesak mungkin lebih dari attitude yang melawan prosedur, yang penting bikin film,” ujar ibu dari dua anak ini kepada sebuah media.

Perempuan yang lahir di Jakarta pada 8 Agustus 1964 ini alumni Institut Kesenian Jakarta. Ia mengambil jurusan penyutradaraan. Mira mengaku, sejak kecil ia memang gemar menonton film, yang semakin mengental setelah ia tinggal di Sydney, tahun 1979. Saking getolnya, kalau sedang hari libur, ia bisa menonton tiga film dalam sehari. Namun, keinginannya untuk membuat film muncul saat ia berusia 17 tahun, setelah menonton pemutaran ulang film 2001 Space Odissey karya Stanley Kubrick, The Wall karya Alan Parker, E.T. karya Steven Spielberg, dan Star Wars karya George Lucas. ”Empat film itu punya dimensi dan kekuatan yang berbeda dan saya merasakan bahwa film memiliki kekuatan yang dahsyat,” katanya kepada sebuah media. Buku-buku tentang penyutradaraan pun ia beli dan ia langsung menyatakan kepada ayahnya bahwa dirinya ingin menjadi orang film. Sang ayah menyetujui. Maka, selepas dari sekolah menengah atas, Mira pun mencari sekolah film di Australia. Ia mendaftar di Australian Film & Television School. Tapi, karena belum punya karya, ia tak bisa masuk ke sana. Maka, Mira pun akhirnya memilih Institut Kesenian Jakarta sebagai pelabuhannya. Toh, lulus dari IKJ, Mira justru bekerja di perusahaan periklanan, selama delapan tahun. Lepas dari dunia iklan mulailah ia menggeluti dunia film secara total. Sebelum berkiprah di layar lebar, Mira dan kawan-kawan sempat membuat beberapa karya untuk layar kaca, antara lain Anak Seribu Pulau, Enam Langkah, dan Buku Catatanku.

Madonna, Penyanyi, Aktris, Penulis
Dalam Guinness Book of Records edisi tahun 2007, Madonna dinobatkan sebagai “the highest earning female singer of all time”. Sebelumnya, pada tahun 2000, Guinness World Records mencatat Madonna sebagai perempuan artis rekaman paling sukses sepanjang masa, dengan perkiraan jumlah penjualan albumnya di seluruh dunia mencapai 120 juta keping. Di tengah berbagai sikapnya yang sering kontroversial, diva yang menganut ajaran Kabbalah ini memang patut diacungi banyak jempol saking begitu banyaknya prestasi yang ia telah capai. Namun, siapa sangka, ketika ia pertama kali tiba di New York pada tahun 1997, di kantongnya hanya ada uang US$35.

Lahir pada 16 Agustus 1958 di Bay City, Michigan, pemilik nama asli Madonna Louise Ciccone ini tumbuh di pinggiran kota industri mobil Amerika Serikat, Detroit. Bapaknya yang berdarah Italia bekerja sebagai teknisi Chrysler. Namun, Madonna telah menjadi piatu ketika usianya belum lagi genap enam tahun, karena ibunya meninggal dunia akibat kanker payudara. Di bawah dorongan ayahnya, Madonna kecil mulai belajar musik dan beberapa tahun kemudian ia meminta izin ayahnya untuk belajar balet. Pertunjukan baletnya yang pertama digelar di sebuah diskotek khusus kaum gay—yang di kemudian hari pertunjukan ini sangat memengaruhi musik dan gayanya. “Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki batas. Batas selalu merupakan pengaruh dari luar, dari orang-orang yang tidak yakin dengan diri mereka dan kemampuan mereka sendiri. Saya begitu yakin dengan diri saya. Saya tahu bahwa saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dan saya selalu akan meraih cita-cita saya,” ungkapnya.

Krisdayanti, Penyanyi
Perempuan kelahiran Batu, Malang, Jawa Timur pada 24 Maret 1975 ini memulai karirnya saat remaja, lewat pemilihan wajah sampul sebuah majalah. “Saya ingin mencari uang untuk membantu ibu saya,” demikian jawab Krisdayanti ketika seorang juri menanyakan alasannya ikut dalam ajang wajah sampul majalah itu. KD memang bukan berasal dari keluarga berada. Bahkan, ayah dan ibunya bercerai, sehingga ibunyalah yang berjuang membesarkan KD dan kakaknya, Yuni Shara. Pada tahun 1983, ketiga perempuan itu pindah ke sebuah rumah mungil di dalam gang becek di Jakarta, dari sebuah desa kecil di Jawa Timur. Mereka meyakini bahwa sebuah mimpi perlu diperjuangkan agar dapat diwujudkan dan setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan baik untuk mengubah nasib mereka. Dari ajang pemilihan wajah sampul majalah itu, sedikit demi sedikit nama KD mulai dikenal publik, meski ia bukan pemenangnya. Namanya semakin akrab di telinga masyarakat Indonesia setelah ia menjadi juara pertama Lomba Cipta Pesona Bintang dan juara utama Asia Bagus di Tokyo pada tahun 1992. Ia juga menyabet penghargaan artis muda berbakat dalam ajang Fidol Award Festival di Bucharest, Rumania. Sejak itu, bintang terang seakan terus menaungi dirinya dan publik menobatkan mantan istri Anang Hermansyah ini sebagai satu dari beberapa diva dalam jagat musik Indonesia.

Marilyn Monroe, Artis
Marilyn Monroe adalah ikon Hollywood yang terus bertahan sampai kini, meski masa jayanya dan kehidupannya di dunia ini telah berakhir puluhan tahun lampau. Bahkan, boleh dibilang, sepanjang abad ke-20 yang lalu, Marilyn Monroe adalah perempuan yang paling terkenal sejagat. Dia merupakan personifikasi dari kegemerlapan Hollywood dan energi yang memikat dunia. Meski cantik dan memiliki garis tubuh nan menggairahkan, perempuan yang lahir pada 1 Juni 1926 ini bukan sekadar dewi seks tahun 1950-an. Kehidupannya yang ringkih dan wajah inosen-nya, yang dikombinasikan dengan sensualitas bawaan, membuat sosoknya disukai banyak orang di seluruh dunia.

Namun, kesuksesannya lebih karena kegigihannya untuk memperbaiki nasibnya dan sikap positifnya dalam menjalani kehidupan, padahal ia berangkat dari masa kecil yang kurang menguntungkan. Ia lahir dari rahim Gladys Baker di Los Angeles, California, dengan ayah yang tak jelas. Awalnya, ia diberi nama Norma Jeane Mortenson, tapi kemudian diberi nama Norma Jeane Baker setelah dibaptis. Ibunya bekerja di dunia film, tapi kemudian mengalami gangguan mental, sehingga Marilyn Monroe kemudian tinggal di panti asuhan dan sempat diangkat anak oleh sebuah keluarga. Namun, ketika keluarga itu harus pindah kota, Marilyn dihadapkan kepada dua pilihan: kembali ke panti asuhan atau menikah, padahal usianya ketika itu 16 tahun. Maka, pada 19 Juni 1942, ia pun menikah dengan tetangganya yang baru berusia 21 tahun, Jimmy Dougherty. Karirnya sebagai foto model dan kemudian menjadi bintang film dimulai ketika ia harus bekerja di sebuah pabrik—karena suaminya bekerja di perusahaan pelayaran—dan dilihat oleh fotografer David Conover. Hanya dalam tempo dua tahun, karirnya sebagai model melesat. Tapi, ia belum puas karena ia ingin sekali menjadi bintang film. Marilyn pun mulai mempelajari kehidupan aktris legendaris Jean Harlow and Lana Turner serta ikut kursus akting. Dalam sebuah kesempatan wawancara, Marilyn Monroe mengatakan, “Saya tidak berkeberatan tinggal di sebuah dunia laki-laki selama saya bisa menjadi seorang perempuan di dalamnya.” Dan pada Agustus 1946, ia pun menandatangani kontrak pertamanya sebagai bintang film, beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Jimmy Dougherty. Setelah itu, namanya semakin berkibar-kibar, meski hidupnya relatif tak lama di dunia yang fana ini. Pedje

Tuesday, August 17, 2010

Percikan

“Lihat, dia menjalankan tugasnya oleh karena dia cinta kepada tanah airnya. Dia berperang untuk bangsanya. Dia bersedia mati demi kehormatan tanah airnya. Begitupun kita, harus!”
Soekarno (1901-1970), Presiden Pertama Republik Indonesia

“Pemuda Indonesia adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisah dari bangsa Indonesia, yang menderita dan berharap. Ia adalah juru bicara perasaan rakyat, ia adalah jiwanya yang menggelora, yang memberi warna kepada masa depan.”
Mohammad Hatta (1902-1980), Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia

“Dunia penuh dengan pertentangan, penuh dengan bahaya perjuangan, dunia gelap. Di Indonesia kita menyalakan obor kecil, obor kemanusiaan, obor akal sehat, yang hendak menghilangkan suasana gelap, suasana pertentangan….”
Sutan Sjahrir (1909-1966), Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia

“Kemerdekaan adalah tanah air dan laut semua suara, janganlah takut kepadanya.”
Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007), Penyair

“Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur,
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.”
Rendra (1953-2009), Penyair

“Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang; jalan itu berbatu-batu, berjendal-jendul, licin... belum dirintis! Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan itu sudah terbuka dan saya turut membantu merentas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumi Putera.”
Kartini (1879-1904), Pahlawan Nasional

Saturday, October 10, 2009

Perempuan Menggugat!

Tak banyak yang tahu, pergerakan kebangsaan dan kebangkitan nasional Indonesia banyak dipengaruhi ide-ide Kartini. Karena, itu peringatan “100 Tahun Kebangkitan Indonesia” mestinya juga adalah peringatan “100 Tahun Kebangkitan Perempuan Indonesia”.

Tahun 2008 genap 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia—meski sekarang ini Indonesia masih dalam keadaan terpuruk. Betapa kita sepatutnya bangga memiliki masa silam yang dipenuhi orang-orang yang berani, antipenindasan, dan tentu saja mencintai tanah airnya. Bayangkan saja, di tengah kekuasaan penjajah Belanda yang sangat mengekang, sebagian pemuda di tanah Jawa berkumpul untuk membentuk satu wadah organisasi pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo, untuk bersama-sama membantu masyarakat yang sedang ditindas penjajahan sekaligus berniat mengusir kaum penjajah dari negeri ini. Tentu saja, dalam konteks zamannya, pendirian Boedi Oetomo itu merupakan hal yang luar biasa. Tak mengherankan jika Mr. C. Th. van Deventer, penggagas politik etis pada masa Hindia Belanda, mengungkapkan ketakjubkannya ketika mengetahui deklarasi kelahiran Boedi Oetmo. ”Suatu keajaiban telah terjadi, Insulinde, putri cantik yang tidur itu, telah terbangun,” tulis Deventer dalam majalah De Gidds.

Dari sanalah agaknya mengalir ide tentang Hari Kebangkitan Nasional. Apalagi, setelah itu, muncul organisasi-organisasi pemuda serupa di berbagai daerah lain di wilayah Nusantara, yang kelak pada 28 Oktober 1928 berkumpul untuk mengangkat sumpah bahwa tanah air mereka adalah Indonesia; bahwa mereka adalah satu bangsa, bangsa Indonesia, dan; mereka bertekad untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia—tanpa menafikan kehadiran bahasa-bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Jadi, meskipun Boedi Oetomo merupakan organisasi orang Jawa yang cenderung membatasi diri pada ”nasionalisme Jawa”—karena otak intelektual di belakangnya adalah aktivis senior kebangkitan Jawa, Wahidin Soedirohoesodo—kelahirannya merupakan bagian dari proses kebangkitan nasional, seperti diungkap oleh Manuel Kaisiepo dalam buku 1.000 Tahun Nusantara. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa beberapa tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo dan gagasan-gagasan tentang kebangsaan Jawa muncul dari tokoh-tokohnya—terutama dari Soetomo dan Wahidin Soedirohoesodo—Kartini telah mengungkapkan gagasannya tentang kebangsaan, sebagaimana dipaparkan Dr. Dri Arbaningsih dalam buku Kartini dari Sisi Lain: Melacak Pemikiran Kartini tentang Emansipasi ”Bangsa”.

Bangsa yang dimaksud Kartini ketika itu, kata Dri, adalah pengertian rasa berbangsa orang Jawa sebagai rakyat yang memiliki bahasa, wilayah, dan budaya. Jadi, Jawa dalam pengertian ini bukan sebatas pada pemahaman sebagai rakyat tanpa identitas. Pada tahun 1903, misalnya, Kartini telah menggunakan istilah nasion, yang membuat banyak pelajar Stovia (Sekolah Dokter Pribumi) terbakar semangat nasionalismenya.

Para pelajar Stovia ini juga bersama Kartini dan Roekmini secara informal membentuk komunitas Jong Java. ”Dalam suratnya kepada seorang pelajar Stovia, Kartini mengingatkan bahwa mereka adalah Jong Java, bangsa Jawa, yang berkewajiban mencerdaskan rakyat yang miskin dan bodoh agar mampu setara dengan Belanda. Tanpa kesepakatan dengan para pelajar Stovia bahwa sesungguhnya mereka adalah Jong Java, dengan segala kewajibannya itu, barangkali tidak akan pernah ada Boedi Oetomo pada tahun 1928, Sarekat Islam pada tahun 1911, Perhimpunan Indonesia pada 1922, Sumpah Pemuda pada tahun 1928, partai-partai dan organisai pemuda-pemudi, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, dan Deklarasi Djuanda pada tahun 1982 tentang batas wilayah laut Nusantara,” ungkap Dri.

Namun, sayangnya, dari sejarah yang sampai ke kita, seolah-olah yang berperan pada momen itu semuanya hanya lelaki, tidak ada perempuannya. ”Padahal, seperti diakui oleh Dokter Soetomo, Ketua Boedi Oetomo, dan teman-teman seperjuangannya pada masa itu, ide-ide Kartini memiliki peran besar dalam pergerakan kebangsaan Indonesia. Ini juga saya ketahui dari eyang saya, yang merupakan teman perjuangan Dokter Soetomo,” ujar Pinky Saptandari, M.A., staf khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Profesor Dr. Meutia Hatta Swasono, Menteri Pemberdayaan Perempuan, juga merasa prihatin dengan penulisan sejarah yang sarat dengan bias gender. “Sangat disayangkan publikasi tentang kiprah perempuan bagi kemajuan bangsa dan negara kurang diekspos secara besar sebagaimana laki-laki,” kata Meutia. Menurut putri Proklamator Bung Hatta itu, bukan hanya Kartini yang dapat menjadi ikon perjuangan atau pergerakan perempuan Indonesia. “Sejak lama perempuan Indonesia secara budaya telah teruji kemampuannya sebagai pemimpin dalam konteks budaya lokal dan nasional, dari masa ke masa. Lihatlah perjuangan Cut Nya’ Dhien, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Nyi Ahmad Dahlan, Rohana Koeddoes, Soewarni Pringgodigdo, S.K. Trimurti, dan masih banyak lagi. Bahkan, kiprah perempuan dalam politik telah teruji berhasil hingga ke jenjang tertinggi, yakni ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden Republik Indonesia,” tutur Meutia.

Soal Kartini, Meutia pun mengungkapkan bahwa pemikiran Kartini tentang wawasan kebangsaan, tentang nasionalisme, sangat maju melampaui batas ruang dan waktu. “Pemikiran Kartini sangat maju dan telah mengilhami para tokoh perjuangan sesudah masanya untuk mengembangkan gagasan kebangkitan bangsa,” ungkap Meutia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nina Akbar Tandjung, Ketua Umum Yayasan Warna-warni, yang peduli terhadap keberagaman dan budaya bangsa. “Kartini itu bukan sekadar pejuang emansipasi perempuan, tapi juga sangat peduli dengan nasib bangsanya, yang dalam masa itu adalah masyarakat Jawa yang tertindas,” kata Nina.

Tapi, entah kenapa, kata Pinky, dalam peringatan Hari Kartini, aspek yang ditonjolkan justru aspek perjuangannya dalam urusan emansipasi perempuan saja dan kemudian sikapnya yang menerima menjadi istri kedua dari seorang bupati. Maka, sudah puluhan tahun berlangsung, Hari Kartini umumnya diperingati dengan lomba kebaya, lomba masak, atau hal-hal lain yang berkenaan dengan peran domestik perempuan. “Kebesaran Kartini telah direduksi,” ujar Pinky.

Persepsi yang melenceng itu kemungkinan besar terjadi karena orang-orang hanya mengenal sosok Kartini dari buku kumpulan surat-surat Kartini yang terkumpul di tangan Mr. J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan Pemerintah Otonomi Hindia-Belanda (1900-1905), Door Duisternis tot Licht, yang terbit pada April 1911, tujuh tahun setelah Kartini wafat. Dri Arbaningsih menduga, buku itu merupakan upaya pengalihan perhatian orang dari inti pemikiran dan perjuangan Kartini mengenai kebangkitan Jawa sebagai suatu nasion, bangsa, melalui pendidikan nalar dan akhlak. “Puncak karya pikir Kartini tertuang pada sebuah nota yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan Seberang Lautan Kerajaan Belanda, yang intinya adalah meminta kepada Kerajaan Belanda untuk memberikan pendidikan bagi bangsa Jawa, dimulai dari pendidikan bagi para bangsawan dan para perempuan bangsawan. Ia juga mengimbau didirikan selain sekolah kepandaian putri, tapi juga sekolah bagi para pamong praja dan jaksa bumiputra serta menyarankan agar obat-obatan tradisional diperkenalkan oleh para dokter Jawa,” papar Dri.

Soal Kartini yang tidak hanya bergelut dalam masalah-masalah domestik juga pernah ditulis oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Panggil Aku Kartini Saja (1962). Dalam buku itu diperlihatkan bagaimana kiprah dan pemikiran Kartini tentang banyak hal, termasuk buku-buku asing yang dibaca oleh Kartini. Menurut Pram, pada Kartini justru tak ada tanda-tanda provinsialisme. “Buat pekerjaan bersama mengangkat derajat rakyat Hindia Belanda, ia (Kartini) pandang setiap orang pribumi yang terpelajar, yang tidak lenyap ditelan alam leluhurnya atau lebur menjadi Belanda cokelat, adalah sejawat-sejawat yang harus bergandengan tangan, bantu membantu, dan isi-mengisi,” tulis Pram dalam buku tersebut. Ini terbukti antara lain dari penghargaan Kartini terhadap Abdul Rivai, dokter Jawa lulusan 1894 yang berasal dari Sumatra Barat. Kartini kagum karena Rivai rela melepas semua jabatannya di Hindia Belanda untuk meneruskan pelajaran di Belanda, tapi ketika akan menempuh ujian tidak diperbolehkan oleh Menteri Dalam Negeri Belanda. ”Oh, sekiranya kami dapat mengadakan kontak dengan pemuda-pemuda kami yang beradab dan maju, seperti Abdul Rivai, dan lain-lain...,” tulis Kartini dalam salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon.

Bahkan, Kartini yang telah menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda kemudian tidak mempergunakan kesempatan itu. Ia malah memohon agar beasiswa itu diserahkan kepada Agus Salim, pemuda kelahiran Sumatra Barat, yang ketika itu Kartini kira berasal dari Riau. Kartini pun menulis surat kepada Nyonya Abendanon pada 29 November 1901, yang ia harapkan diteruskan kepada suaminya, Mr. J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan Pemerintah Otonomi Hindia-Belanda. Demikian tulis Kartini:


Pemuda itu bernama Salim, seorang Sumatra dari Riau, yang tahun ini lulus ujian HBS dan no. 1 dari ketiga-tiga HBS yang ada. Pemuda ini ingin sekali pergi ke Holland buat meneruskan pelajaran jadi dokter, sayang keuangannya tidak mengizinkan. Ayahnya hanya bergaji f150.

Kalau perlu mau dia menjadi kelasi, asal bisa ke Holland saja.

Tanyailah Hasim tentang dia, karena dia pernah mendengar pidatonya di Stovia. Pemuda itu adalah seorang yang pandai, berani, yang patut sekali dibantu.

Waktu kami dengar tentang dirinya dan tentang angan-angannya timbullah hasrat besar dalam hati kami untuk memudahkan dia. Maka teringatlah kami pada keputusan pemerintah tertanggal 7 Juli 1903—keputusan yang sangat kami harap-harapkan tetapi yang dengan berduka-cita kami terima.

Haruskah buah kerja kawan-kawan yang mulia, harapan-harapan kami, doa dan hasrat kami, mesti lenyap tanpa guna?

Tak mungkinkah orang menggunakannya? Pemerintah menyediakan bagi kami f4.800 buat menyelesaikan pelajaran kami; tidakkah itu bisa diberikan kepada orang lain, yang barangkali lebih dari kami, tetapi sudah pasti tidak bakal kurang daripada kami selayaknya mendapat bantuan?


Menurut Tamalia Alisjahbana, putri budayawan besar Sutan Takdir Alisjahbana yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Gedung Arsip Nasional Indonesia, ayahnya pernah mengatakan bahwa Kartini kemungkinan besar urung mengambil beasiswa yang telah ia terima itu karena bujukan Nyonya Abendanon. ”Karena, keputusan itu terjadi setelah Nyonya Abendanon menemui Kartini. Menurut ayah saya, Kartini dibujuk untuk tidak mengambil beasiswa itu karena partai yang sedang berkuasa di Belanda ketika itu khawatir Kartini akan dijadikan alat oleh Partai Sosialis, yang menjadi oposisi partai yang sedang berkuasa, setelah lulus kelak. Karena, Kartini bersahabat dengan banyak tokoh, termasuk dengan Estelle Zeehandelaar, aktivis Partai Sosialis dan beasiswa itu merupakan hasil upaya anggota Parlemen Belanda dari Parti Sosialis. Sementara itu, suami Abendanon adalah salah seorang pejabat dalam pemerintahan yang sedang berkuasa. Jadi, masalahnya sebenarnya politis sekali, bukan seperti yang selama ini kita kira bahwa Kartini tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena dipaksa menikah. Justru ayahnya telah mengizinkan Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda,” ungkap Tamalia dengan semangat. Karena kecewa tak bisa melanjutkan studi ke Belanda, duga Tamalia, Kartini akhirnya bersedia menikah dengan seorang bupati yang telah beristri dan memiliki enam orang anak.

Namun, yang pasti, republik ini berdiri bukan hanya karena kiprah kaum laki-laki. Begitu pula munculnya kesadaran untuk membentuk suatu bangsa di negeri ini, tidak hanya monopoli kaum pria. Bahkan, dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan, kaum perempuan memiliki peran yang tak kalah penting dengan laki-laki. Coba bayangkan bagaimana kondisi para pejuang kita di medan laga itu bila kaum perempuannya enggan mendirikan dapur umum, misalnya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan sendiri untuk memperingati ”100 Tahun Kebangkitan Nasional” telah menyiapkan beberapa program yang bertujuan mengingatkan bangsa ini tentang peran perempuan dalam pergerakan nasional, sehingga bangsa ini menyadari bahwa tak mungkin ada kebangkitan nasional Indonesia tanpa kebangkitan perempuan Indonesia. ”Kami antara lain akan mengadakan 'Kampanye Kiprah Perempuan Indonesia', berupa seminar dan kunjungan ke seratus sekolah lanjutan atas dan lima perguruan tinggi. Juga akan menerbitkan buku ’Aksi Perempuan Indonesia: Buku Potret 100 Perempuan Pejuang Indonesia’, Pameran ’Dri Perempuan untuk Indonesia’, dan sebagainya,” papar Meutia Hatta. Hidup perempuan! (Pedje)