Sunday, August 22, 2010

Marissa Nasution Mabuk Berjalan

Ia berbicara tentang uang, pendidikan seks, baby booming, dan kekasihnya.

Inilah potret industri sinetron kita. Marissa Nasution atau lebih dikenal sebagai VJ Marissa (karena pernah menjadi video jockey di MTV) dikontrak untuk bermain di sebuah sinetron. Syuting sudah dilakukan. Tapi, kemudian ada peristiwa Manohara yang telah kita ketahui bersama. Dan, Marissa kena "getahnya". “Suatu pagi, ketika bangun tidur, saya disodori skenario sinetron 'Manohara'. Katanya, peran saya di sinetron yang sedang saya jalani syutingnya itu dialihkan ke sinetron 'Manohara' yang akan segera ditayangkan. Karena tak ada pilihan lain, saya terima saja,” tutur perempuan yang lahir pada 8 Februari 1986 ini.

Padahal, akunya, dalam memilih peran untuk sinetron dan film layar lebar, dia termasuk selektif. Tak sembarang tawaran akan ia terima. “Saya akan membaca dulu ceritanya. Saya juga tak akan main sinetron atau film horor, karena jelek sekali karmanya,” ujarnya.

Karma? Ya, Marissa percaya karma. Karena itulah, menurut dia, kalau orang ingin menjadi pribadi yang baik, jadilah pribadi yang baik karena kita menginginkannya, bukan karena ada dorongan dari lingkungan, agama, atau karena takut terkena konsekuensi sosial. “Kesadaran seperti itu muncul dalam diri saya sejak saya berusia 16 tahun. Saya sendiri besar di Jerman. Dan, keluarga saya open minded. Orang tua saya sangat mendorong anak-anaknya untuk mempelajari kehidupan dan mendapat pengalaman hidup sendiri. Jika anak-anaknya melakukan kesalahan, ayah saya akan mengatakan, ‘Kamu memang salah. Tapi, dengan kesalahan itu kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik. Yang penting kamu menyadari bahwa apa yang kamu lakukan itu salah, tahu kesalahan kamu apa’,” kata Marissa.

Sebagai manusia, Marissa tentu saja pernah berbuat salah. “Saya pasti pernah menyakiti orang, teman-teman, atau ketika suatu hubungan yang saya jalin bersama seseorang terpaksa putus. Tapi, untuk hubungan yang putus tersebut sebenarnya saya yang lebih sakit daripada orang itu,” tutur Marissa.

Soal sinetron 'Manohara' itu, Marissa tak mau berkomentar lebih jauh. “Itu sudah takdir saya,” ungkapnya. Begitu pula saat diminta pendapatnya tentang kasus Manohara. “No comment, daripada saya emosi lagi,” kata pemegang paspor Jerman ini.

Marissa sendiri mengaku lebih suka bermain untuk film layar lebar ketimbang main di sinetron. “Karena, di film layar lebar, karakternya lebih berkembang. Di sinetron Indonesia kan karakter-karakternya tetap begitu saja walau sudah belasan episode, hanya berkisar antagonis dan protagonis. Ceritanya juga begitu-begitu saja karena katanya pasar Indonesia memang menginginkan yang seperti itu. Kalau ada cerita yang berbeda, pasar akan menolak,” tuturnya.

Toh, itu bukan berarti Marissa menampik untuk bermain sinetron lagi. “Pada dasarnya, saya ini gila kerja. Kan, dengan ikut sinetron, saya menjadi punya kesibukan setiap hari,” ungkap Marissa. Pada tahun 2010 ini, Marissa sudah menerima tawaran untuk bermain di dua sinetron dan dua film layar lebar. Namun, ketika ditemui pertengahan Januari lalu, ia belum mulai syuting.

Marissa sendiri tak pernah belajar akting sebelumnya, apalagi lewat pendidikan formal. Kemampuan aktingnya lebih mengandalkan bakat alamiah yang ada dalam dirinya. Karirnya di dunia hiburan Indonesia pun boleh dibilang tidak sengaja.

“Saya datang ke Indonesia pada awal tahun 2006, sendiri saja, hanya berbekal satu koper. Keluarga saya tinggal di Jerman. Saya ke Indonesia lebih untuk mencari pengalaman dan mengenal lebih jauh negeri ibu saya. Jadi, tidak bermaksud untuk mencari pekerjaan,” kata sulung dari tiga bersaudara ini. Ayahnya memang dari Jerman dan ibunya orang Mandailing, Sumatra Utara, bermarga Nasution—“Walau tidak lazim, saya pakai marga ibu saya karena orang biasanya ribet kalau menyebut nama lengkap saya, yang sebagian memakai nama ayah saya,” katanya.

Suatu hari, ia ditawari oleh seorang desainer papan atas Indonesia untuk menjadi model. “Maka, saya pun mencobanya. Tapi, karena badan saya besar, banyak baju desainer Indonesia yang tidak pas saya kenakan. Akhirnya, setelah beberapa lama, saya meninggalkan dunia model. Dan, kemudian ditawari untuk menjadi VJ MTV. Saya dari dulu memang orangnya realistis. Sejak kecil pun saya tak pernah punya keinginan untuk berkarir di dunia hiburan,” ungkap sulung dari tiga bersaudara ini.

Soal gila kerja itu bukan hanya di Indonesia. Waktu masih studi di Jerman, Marissa juga bekerja paro waktu sepulang sekolah atau kuliah. “Saya bekerja dari usia 14 tahun. Terakhir, saya bekerja di tiga tempat: di restoran, di lounge, dan di butik baju. Saya bekerja tujuh hari dalam seminggu. Saya memang diajarkan oleh orang tua saya untuk menghargai uang. Tapi, ayah saya selalu mengingatkan bahwa uang bukanlah segalanya. Itu merupakan pengalaman yang berharga. Sekarang saya menjadi tahu nilai uang sesungguhnya. Saya kira remaja memang harus diajarkan seperti itu. Kalau saya lihat, di Jakarta, banyak sekali remaja yang tidak tahu nilai uang dan akhirnya tidak menghargai uang,” kata perempuan yang pernah masuk daftar perempuan paling seksi versi sebuah majalah pria ini.

Seksi sendiri menurut Marissa bisa karena bermacam-macam: bisa karena cara bicara seseorang, penampilannya, caranya berjalan, ketika tersenyum, dan sebagainya. “Namun, banyak yang mendefinisikan seksi itu sekadar berpayudara besar atau memakai rok pendek. Menurut saya, yang seperti itu seksi murahan. Padahal, orang bisa seksi tanpa memperlihatkan bagian tubuhnya. Ini yang disebut sebagai seksi mahal. Seksi itu kan sebenarnya hanya ada dalam imajinasi seseorang. Kadang kan kita melihat seseorang seksi, tapi kita sendiri tak tahu kenapa,” ujar perempuan yang tak menganggap dirinya seksi ini. Marissa memberi contoh. Katanya, walau George Cloney bukan tipe pria yang ia sukai, Marissa menganggap aktor Hollywood itu seksi.

Sementara itu, ketika ditanyak soal seks, Marissa berkomentar bahwa ia ngeri melihat remaja di Jakarta, yang umumnya masih sekolah atau kuliah. “Mereka umumnya tidak tahu apa itu seks. Tiba-tiba, di usia 16 tahun, misalnya, mereka hamil dan mereka tidak tahu apa yang terjadi,” ungkapnya.

Itu terjadi karena, di Indonesia, seks masih menjadi black issue, tabu. “Padahal, remaja kan memang sudah dari sananya ingin tahu ini-itu. Tapi, untuk bertanya ke orang tua atau ke guru, mereka merasa tak enak atau malu,” tutur Marissa.

Lalu, bagaimana mengatasinya? “Harus ada inisiatif dari orang tua dan guru untuk memberikan pendidikan seks kepada mereka. Karena, edukasi seks itu penting sekali, terutama bagi remaja 14 sampai 15 tahun. Kalau kurang atau tidak mendapat pendidikan seks, bukan hanya kehamilan yang tidak dikehendaki yang akan datang, tapi juga bermacam penyakit dan virus berbahaya, seperti hepatitis dan HIV/AIDS. Kan, pastinya tidak ada orang tua yang ingin anaknya terkena penyakit yang berbahaya itu,” katanya. Marissa berharap, pendidikan seks diajarkan dengan benar di seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Apalagi, banyak remaja Indonesia, karena persoalan ekonomi, tak memiliki akses informasi lain selain informasi yang didapatkan dari sekolah. “Kalau remaja kota-kota besar dan mampu kan bisa mengakses pengetahuan itu dari internet,” ujar Marissa.

Tentu saja, yang dimaksud dengan pendidikan seks itu bukan mengajarkan berbagai macam cara making love seperti Kamasutra. “Tapi, lebih kepada pengetahuan organ-organ reproduksi, cara bekerjanya, dan penyakit-penyakit yang bisa ditumbulkan dari hubungan seks, berikut cara pencegahannya. Saya sendiri waktu bersekolah di Jerman mendapat pendidikan seperti itu di kelas 6 atau kelas 7. Dan, saya mendapat pelajaran itu juga dari orang tua. Pendidikan seks menurut saya penting sekali,” ujarnya.

Kurangnya pendidikan seks itu juga, menurut Marissa, yang membuat banyak negara di Asia Tenggara mengalami baby booming. “Kan telah terjadi ledakan pendudukan yang luar biasa di Asia Tenggara belakangan ini. Dan, di antara bayi yang lahir itu banyak sekali berasal dari ibu-ibu remaja,” tutur Marissa dengan nada prihatin.

Marissa sendiri, meski sudah berusia cukup matang untuk melahirkan dan berumah tangga, belum punya rencana kapan untuk menikah. Ia kini tengah menjalin hubungan asmara dengan Rafael, yang telah lama dikenalnya. “Saya benar-benar jatuh cinta sama dia. Bagi saya, dia tidak ada kekurangannya. Mungkin, di mata orang lain, Rafael punya banyak kekurang. Tapi, di mata saya, kekurangan-kekurangan itu justru saya lihat sebagai kelebihannya,” katanya. Tampaknya perempuan cantik ini benar-benar sedang mabuk, mabuk cinta maksudnya. Meminjam istilah penyair Sapardi Djoko Damono dalam salah satu puisinya, betapa parah cintanya, “mabuk berjalan di antara jerit bunga-bunga rekah….” Wah! Pedje

No comments:

Post a Comment