Tuesday, November 10, 2009

Ketika Usus Besar Tak Memiliki Jaringan Saraf

Waspadai bila bayi yang baru dilahirkan tidak buang besar dalam waktu 24 jam.


Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman saya waktu kuliah dulu. Ia bersama istri dan anaknya, laki-laki berusia sembilan. Saya sungguh gembira melihat anak mereka yang kini sehat walafiat layaknya anak-anak normal seusia dia. Veri, nama anak mereka, juga lincah dan asyik diajak ngobrol—pengetahuannya lumayan luas, terutama untuk hal-hal yang ia minati, seperti komik dan dinosaurus.

Padahal, saya tahu benar, Veri pernah punya masalah dengan usus besarnya. Selama lebih dari empat tahun, Veri harus berjalan tertatih-tatih karena perutnya mengembung besar sekali. Veri pernah menderita hirschprung.

Karena penasaran dengan nama penyakit yang diderita anak sahabat saya itu, saya sempat menemui dokter yang menangani penyakit Veri tersebut. Nama dokternya dr. Amir Thayeb, Sp.B., Sp.B.A. dari Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Menurut Thayeb waktu itu, hirschprung merupakan kelainan bawaan, ketika pada sebagian atau keseluruhan usus besar seseorang tidak memiliki saraf. “Akibatnya, kotoran yang seharusnya dikeluarkan menjadi menumpuk di usus besar dan membuat perut si penderitanya menjadi kembung. Kalau dibiarkan, kondisi ini lama-kelamaan akan berbahaya karena kotoran dapat menjadi racun, meracuni tubuh penderitanya,” ujar Thayeb.

Sayangnya, tambah Thayeb lagi, sampai sekarang hirschprung belum diketahui penyebabnya. Kalangan medis baru dapat menduga waktu mulainya seseorang menderita hirschprung, yakni pada masa si penderita masih berupa janin, dalam usia kandungan tiga sampai empat bulan. “Jadi, sejak dalam kandungan, saraf di usus besar itu sudah tidak ada. Ini bukan penyakit yang muncul ketika bayi baru lahir, yang disebabkan karena si bayi mengalami sesuatu. Bukan seperti itu,” ungkap Thayeb.

Biasanya, bayi yang menderita hirschprung ketika baru lahir tidak buang besar sebagaimana bayi normal, yang buang air besar beberapa saat atau beberapa jam setelah dilahirkan. “Karena itu, orang tua yang bayinya tak juga buang air besar sampai dua puluh empat jam setelah dilahirkan harus curiga, jangan-jangan sang bayi menderita hirschprung,” kata Thayeb.

Ya, saya ingat. Teman saya dulu sempat mengatakan, pada hari ketiga Veri lahir, buah hati teman saya dan pasangannya itu belum juga buang air besar. Mereka menjadi panik karena perut Veri mengembung. Akhirya mereka dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani rawat inap.

Namun, sampai hari kesepuluh dirawat, kondisinya tidak juga membaik. Paramedis yang merawat Veri ketika itu pun tak bisa memberi kepastian kepada teman saya itu, penyakit apa sebenarnya yang diderita Veri. Itulah sebabnya, teman saya kemudian memindahkan Veri ke rumah sakit lain dan Veri akhirnya dapat buang besar, setengah bulan setelah ia dilahirkan. “Itu pun melalui proses yang tak mudah dan kami lihat prosesnya tampaknya menyakitkan dia,” ujar teman saya beberapa tahun yang lalu. Sungguhpun begitu, dokter yang merawat Veri belum juga mengetahui apa sebenarnya penyakit anak teman saya itu. Dan, Veri pun hanya bisa buang besar dua minggu sekali.

Baru ketika Veri berusia sebelas bulan, seorang dokter menyatakan kemungkinan Veri menderita hirschprung. Menurut dokter itu, penyakit tersebut hanya bisa dihilangkan dengan membuang bagian usus besar yang mengidap hirschprung, yang tak memiliki jaringan saraf. “Memang begitu cara penanganan hirschprung satu-satunya, tak ada cara lain. Itu artinya, si penderita harus menjalani operasi pembuangan usus besarnya yang sakit agar perutnya kempis layaknya orang normal. Tapi, sebelum dilakukan operasi pemotongan itu harus dipastikan dulu bahwa si anak memang menderita hirschprung,” tutur dr. Amir Thayeb, Sp.B., Sp.B.A.

Ada dua langkah yang lazimnya diambil dokter bedah anak untuk memastikan apakah seorang anak menderita hirschprung atau tidak. “Pertama, dipotret dulu kondisi usus besar si penderita, dengan sebelumnya si penderita diberi barium agar hasil fotonya berwarna. Dari sana, kami bisa melihat, kalau si anak memang menderita hirschprung, saluran usus besarnya menyempit,” ungkap Thayeb. Namun, pemotretan itu saja tidak cukup.

“Langkah kedua adalah mengambil sedikit usus besar untuk diperiksa di bagian patologi. Kalau hasilnya menyatakan tidak ada jaringan saraf di usus besarnya, jelaslah bahwa perut kembung itu karena hirschprung dan harus dibuang usus besarnya yang sakit itu agar si anak kembali normal,” ujar Thayeb.

Namun, dengan alasan tak tega, teman saya itu baru mengizinkan dokter mengoperasi Veri setelah Veri beranjak besar. Bisa dimaklumi. Karena, ternyata, untuk menghilangkan hirschprung itu diperlukan tiga kali operasi. “Operasi pertama, usus besar yang sehat untuk sementara dikeluarkan dulu dari dalam perut agar buang air besar si penderita lancar setiap hari, yang akan dapat memulihkan kondisi kesehatan si anak. Usus besar yang sehat itu diletakkan di luar perut selama enam bulan. Jadi, di salah satu samping perut si penderita ada usus besarnya,” kata Thayeb.

Setelah enam bulan itu, operasi kedua pun dilakukan. “Pada operasi kedua inilah bagian usus besar yang sakit, yang tidak memiliki jaringan saraf, dibuang. Bagian usus besar yang sehat dimasukkan kembali ke dalam perut dan ditarik ke bawah sampai ke luar dari anus, sehingga si penderita seperti memiliki ekor,” tutur Thayeb.

Operasi ketiga dilakukan dua minggu kemudian. Operasi ini merupakan operasi untuk membuang “ekor”. “Setelah itu dipasang klem. Dalam dua minggu, anatomi usus besarnya akan kembali normal karena usus besarnya harus membiasakan dulu pada anatomi yang baru. Dalam kondisi ini biasanya si anak cenderung mengalami mencret atau malah sebaliknya, susah buang air besar,” tutur Thayeb.

Biasanya, siklus buang besar si anak akan mulai normal dalam waktu tiga sampai empat bulan setelah operasi ketiga itu. Normal di sini maksudnya seperti manusia pada umumnya. “Jadi, sebelum normal kembali, yang perlu diatur adalah diet-nya. Kalau kecenderungan mencret, misalnya, si anak jangan diberi buah pepaya. Sebaliknya, kalau kecenderungannya susah buang air besar, ya, diberi buah pepaya. Tapi, pada dasarnya, tak ada pantangan apa pun bagi anak yang telah menjalani operasi pengangkatan usus besar,” kata Thayeb.

Veri sendiri, menurut teman saya, dulu mengalami kecenderungan mencret setelah operasi, sampai-sampai daerah dubur dan sekitarnya mengalami iritasi. Namun, setelah beberapa tahun tak melihat Veri, saya sangat gembira sekali. Veri tumbuh normal seperti anak-anak yang lain. Malah, menurut saya, kecerdasan Veri di atas rata-rata anak-anak normal seusianya. (Pedje)

2 comments:

  1. ha, ha,... blek, knapa gak disebut aja nama asli tuh bocah, nyokap dan bokapnya, he, he...
    Kalau usus besarnya dibuang sedikit (5 cm) misalnya, BAB akan normal. Tapi kalau yang tersisa usus besarnya hanya untuk menyambung ke dubur, bisa jadi akan buang air besarnya mencret terus. Bahkan, apa yang dimakan akan lebih banyak keluar dalam bentuk aslinya. Karena itu, soal penyerapan sari makanannya pun ikut-ikutan terganggu. Karena itu jangan lupa untuk tetap memberikan vitamin. Bukan itu saja, biasanya kecenderungan untuk menahan buang air besar pada saat tidur akan sangat sulit. Hasilnya, ya setiap pagi atau tengah malam siap-siaplah untuk membersihkan kotorannya.

    ReplyDelete
  2. Tadinya, gw juga mau nulis begitu. Tp, gw takut dianggap mengeksploitasi temen sendiri, hehehe.... Makanya, gw samarin aja namanya, kecuali nama dokternya. Karena, tujuannya kan menyampaikan informasi tentang penyakit hirschprung buat orang banyak. Thanks, Blek, atas info tambahannya.

    ReplyDelete