Friday, November 20, 2009

Menjadi Ibu (Lagi) setelah Melewati Usia 40

Lelah, kurang tidur, dan harus kembali berurusan dengan popok bayi. Tapi, itu semua ternyata tidak begitu dirasakan oleh kedua ibu di bawah ini. Justru mereka merasa lebih bahagia dan lebih bijak sebagai ibu.


“Cinta Saya Datang Lebih Cepat”
Menikah dengan Dr. H. Nono Padmodimuljo pada 26 Maret 2003, mantan peragawati Okky Asokawati dikaruniai anak keduanya menjelang usianya yang ke 45 tahun. Lahir pada 28 Januari 2006 lalu lewat operasi caesar, bayi perempuan itu diberi nama Queentadira Asokawati Padmodimuljo.


“Saya memang belum pernah melahirkan normal. Kakak Queenta, Tanisa Diva Siti Murbarani, lahir pada 25 Juli 1995 lewat operasi caesar juga. Saya memang punya masalah dengan tulang panggul saya, sehingga harus selalu melahirkan lewat operasi caesar.

“Tentu saja, saya cemas dan khawatir menjalani kehamilan kedua ini pada usia di atas 40 tahun. Tapi, kecemasan dan kekhawatiran itu lebih tertuju pada kondisi janin yang ada dalam kandungan saya. Karena, menurut berbagai penelitian yang pernah saya baca dan juga menurut dokter, kromosom janin yang berada dalam kandungan ibu yang sudah berusia di atas 40 tahun memiliki kemungkinan mengalami pembelahan yang tidak sempurna, sehingga si bayi dapat menderita edward’s syndrome atau down syndrome. Itulah yang membuat saya cemas.

“Namun, saya pun akhirnya pasrah saja. Apa pun kondisinya, saya siap menerima. Karena, biar bagaimanapun, janin yang ada dalam rahim saya ini adalah titipan dari Yang Mahakuasa, yang harus saya jaga dan saya rawat dengan baik.

“Agar lebih tenang, pada usia kandungan menginjak bulan keempat, saya melakukan pemeriksaan kehamilan dengan USG empat dimensi. Alhamdulillah, lewat USG itu bisa diketahui bahwa kondisi janin saya sehat dan jenis kelaminnya perempuan. Saya sungguh gembira.

“Berbeda dengan waktu mengandung Diva, ketika hamil Queenta, saya tak menjalani diet. Apa saja saya makan, tak ada pantangan, demi kesehatan janin yang ada dalam kandungan saya. Orientasinya memang selalu untuk anak. Waktu hamil Diva, saya menjalani diet, karena masih memikirkan karir. Kalau sekarang kan saya sudah tak lagi memikirkan karir.

“Hamil dan melahirkan pada usia di atas 40 tahun membuat saya merasa lebih bijak sebagai seorang ibu—meski lebih berat karena saya menjadi lebih mudah lelah. Mungkin karena itu juga, ya, begitu Queenta lahir, saya langsung memiliki ikatan emosional yang kuat dengan dia. Rasa cintanya datang begitu cepat. Ini berbeda dengan Diva, yang dilahirkan ketika saya masih berusia 30-an tahun dan masih memikirkan karir. Proses cinta yang lebih dalam baru muncul ketika Diva berusia 7-8 bulan.

“Karena lama tak memiliki anak lagi, sepuluh tahunan, awalnya gagap juga saya merawat dan mengasuh Queenta. Saya sempat menelepon teman-teman ketika bingung menghadapi Queenta yang tak tidur sepanjang malam, misalnya, ha-ha-ha….

“Saya kini juga mendidik Diva agar ia kelak bisa mengajarkan ke adiknya, apa yang telah saya ajarkan. Karena, ketika Queenta nanti berusia sepuluh tahun seperti Diva sekarang ini, kan saya sudah berusia 55 tahun. Mungkin, kondisi fisik saya sudah tak lagi seperti sekarang.”

“Karena Lama Tak Punya Bayi, Saya Sangat Senang dengan Kehadiran Razza”
Yunita Barfiandini menikah dengan Groho Muktiadi Bahri pada 4 November 1990. Mereka kemudian dianugerahi dua anak laki-laki, Ghani Yusuf Muktiadi dan Rafi Ahmada Muktiadi. Karena ingin memiliki anak perempuan, ketika anak keduanya berusia 12 tahun, Yunita kembali hamil dan melahirkan pada 15 Januari 2005 lalu. Tapi, lagi-lagi, anak ketiganya itu seorang laki-laki.

“Terus terang, awalnya saya takut ketika tahu bahwa saya hamil. Bukan apa-apa, saya takut kalau harus melahirkan lewat operasi caesar. Karena, yang pertama dan yang kedua, saya melahirkan normal.

“Ketakutkan saya bertambah ketika mendengar cerita dari teman-teman bahwa perempuan yang akan melahirkan di usia 40 tahun ke atas memang harus melahirkan lewat operasi caesar. Untunglah, ibu saya menenangkan bahwa beliau pernah punya teman-teman yang melahirkan normal meski pada usia 40 tahun ke atas. Waktu saya memeriksakan kandungan ke dokter, saya juga bertemu dengan seorang ibu yang bercerita bahwa ia punya saudara yang melahirkan normal pada usia 45 tahun. Mendengar itu rasanya lega.

“Tapi, dokter kandungan yang biasa memeriksa saya justru mengatakan bahwa perempuan di atas 40 tahun memang harus melahirkan lewat operasi caesar. Katanya, itu sudah prosedur kedokteran. Wah, saya syok banget. Begitu pula suami saya. Saya kemudian meminta surat pengantar dari dokter itu untuk memeriksa kandungan dengan USG 4 dimensi, karena di rumah sakit tempat saya biasa memeriksa kandungan tidak ada. Waktu itu, usia kandungan saya baru tiga bulan.

“Nah, ketika akan di-USG 4 dimensi, saya tanya ke dokternya, apakah perempuan yang usianya sudah lebih 40 tahun seperti saya memang harus melahirkan lewat operasi caesar. Dokter itu mengatakan, ya, tidak harus, tergantung pada kondisi si ibu dan janinnya. Kalau keduanya tak punya masalah, ya, sebaiknya normal saja. Lega sekali mendengar penjelasan dokter.

“Saya semakin lega ketika lewat USG itu juga diketahui jenis kelamin janin yang saya kandung. Meski saya berharap anak ketiga kami seorang perempuan, saya merasa lega begitu mengetahui ternyata jenis kelamin janin yang saya kandung adalah laki-laki. Karena, dengan begitu, saya tak berharap-harap lagi akan mendapat anak perempuan. Kan, kasihan janin saya, ya, kalau saya terus berharap dia berjenis kelamin perempuan, sementara dia sebenarnya laki-laki.

“Ketika akan melahirkan, waktu saya bersama suami dan kedua anak kami datang ke rumah sakit, ternyata dokter yang biasa memeriksa saya sedang ke Solo. Saya sempat panik juga, apalagi ketika itu juga tak ada dokter kandungan lain di rumah sakit tersebut dan dokter yang biasa memeriksa saya juga tak merekomendasikan dokter lain kalau dia tak ada. Akhirnya, saya terpaksa menunggu kedatangan dokter lain yang baru dipanggil ketika itu. Alhamdulillah, anak ketiga kami, Razza Ibram Wibowo Muktiadi, bisa dilahirkan dengan normal.

“Mungkin karena kondisi fisik saya sudah menurun, ya, waktu hamil Razza rasanya saya ini gampang capek. Selama kehamilan, saya jadi rajin berenang untuk menguatkan stamina, juga supaya bisa melahirkan normal.

“Saya juga banyak mengonsumsi ikan, buah, dan sayur-mayur. Karena, mitosnya kan kalau ingin dapat anak perempuan katanya harus banyak makan sayur, ya. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain, kami diberi anak laki-laki lagi, ha-ha-ha….

“Awalnya, yang paling gembira ketika saya hamil adalah Rafi, anak kedua kami, karena ia memang sudah lama ingin punya adik. Tapi, waktu Razza lahir, yang sangat antusias menyambutnya justru kakak pertamanya, Ghani. Rafi malah menjadi pendiam, mungkin karena ia kelamaan menjadi bungsu dan kini perhatian orang-orang lebih banyak tercurah kepada si kecil Razza. Melihat itu, saya dan suami pun selalu mengajak Rafi untuk ikut terlibat dalam mengurus adiknya, sebisa dia. Saya katakan juga bahwa sang adik mirip dengan dirinya sewaktu masih bayi. Pelan-pelan, dia mulai mau lebih intens memperhatikan adiknya dan setelah sang adik berusia sembilan bulan Rafi benar-benar begitu perhatian kepada adiknya.

“Saya pribadi merasa lebih matang, lebih dewasa, dan lebih bijak setelah punya anak lagi di usia 42 tahun. Meski pada awalnya saya gugup juga, karena sudah lebih dari sepuluh tahun tak punya bayi lagi. Pada awal-awal kelahiran Razza, saya meminta tolong ibu saya untuk mengajari saya kembali, bagaimana cara mengasuh dan merawat bayi, ha-ha-ha…

“Melelahkan memang punya bayi di usia seperti sekarang, karena saya sudah terbiasa dengan jam istirahat yang teratur. Agar stamina terjaga, saya meminum suplemen vitamin. Tapi, karena sudah lama tak punya bayi, saya merasa sangat senang dengan kehadiran Razza. Begitu pula suami saya.” (Pedje)

No comments:

Post a Comment