Tuesday, November 3, 2009

Perjalanan Panjang Edward Hutabarat

Edward Hutabarat bak pendekar kelana dalam dunia fashion Indonesia. Tak puas hanya menjadi follower, ia pun mengembara ke berbagai penjuru negeri ini untuk menemukan jatidiri. Pergulatannya yang panjang dan penuh cinta dengan kekayaan alam serta budaya Indonesia melahirkan ‘jurus-jurus baru’ yang dikagumi banyak orang.


Tak dapat dinafikan, semaraknya pemakaian batik pada berbagai kalangan belakangan ini tak dapat dilepaskan dari nama Edward Hutabarat, seniman serbabisa yang lebih ingin disebut sebagai fashion designer saja. “Karena, bagi saya, fashion itu lifestyle, bukan sekadar sepotong baju, tapi juga menyangkut bagaimana celana dalam pilihan Anda, handuk, piring, mangkuk, sampai cara berjalan. Fashion itu dipengaruhi oleh pakua, delapan arah mata angin. Ini saya temukan dalam perjalanan saya sebagai fashion designer,” ujar pria kelahiran Tarutung, Sumatra Utara, pada 51 tahun lalu ini.

Dengan pemikiran semacam itu, menurut Edo—begitu biasa ia disapa oleh teman-temannya—semua unsur ia masukkan ke dalam life style. “Saya bukan Valentino, bukan John Galiano. Saya hanya Edward Hutabarat yang lahir di Tarutung, yang berusaha mengembangkan fashion Indonesia, tentunya dengan barometer perspektif saya, karya-karya internasional. Dengan begitu, baju saya bisa match dengan tas Herm├Ęs atau jelly shoes dari Marc Jacobs atau dengan Manolo Blanic. Itulah yang pertama kali saya pikirkan ketika saya membuka Part One, start-nya dari sana. Karena, ini dunia global. Kita harus blending semua itu,” ungkapnya.

Part One adalah butik yang dibuka Edo pada tahun 2006 lalu. Belum lama memang. Namun, dapat dilihat di sana, untuk mewujudkannya, putra mantan seorang jaksa ini harus melewati perjalanan panjang dan mendalami serta menghayati kekayaan budaya dan alam yang dimiliki bangsa besar Indonesia. Karena, seperti diungkapkan Edo di atas, Part One tidak sekadar menawarkan busana, namun menyajikan beragam produk gaya hidup yang merefleksikan penghargaan dan kecintaan Edo terhadap Indonesia, yang pembuatannya dilakukan oleh seniman mumpuni dari berbagai daerah. ”Untuk itu, saya melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke,” kata pria yang senang jalan-jalan ini.

Pada peragaan busana yang digelar beberapa waktu lalu, misalnya, Edo dengan Part One-nya menampilkan karya-karya batik nan cantik dan elegan, dengan bahan sutera yang ditenun dengan alat tenun bukan mesin dan juga yang berbahan katun. Busana itu dikombinasikan dengan beragam aksesori yang digali dari kekayaan negeri ini, seperti bebatuan, tanduk, dan perak. ”Konsepnya, ya, itu tadi, menggabungkan batik atau fashion Indonesia dengan brand internasional,” tutur fashion designer yang belasan tahun lalu juga sukses menaikkan kembali pamor kebaya sebagai bagian dari gaya hidup perempuan Indonesia ini.

Untuk lebih mengenal pemikiran dan karya-karya Edo, awal Juli lalu, Editor in Chief eve Indonesia Amy D. Wirabudi, Senior Features Editor Purwadi Djunaedi, dan Fashion Editor Rinny Adha Yanti mengunjungi Edo di rumahnya yang artistik di bilangan Taragong, Jakarta Selatan. Perbincangan berlangsung hangat, dengan ditemani kudapan khas dari berbagai daerah di Indonesia. ”Barang-barang yang ada dalam rumah saya adalah gaya Indonesia dan tidak ada satu pun barang di rumah saya yang saya beli, tapi semuanya hasil koloborasi. Paling-paling barang jadi yang saya beli adalah piring. Dan, saya bisa melihat ritme mata orang yang masuk ke rumah saya, yang berbeda ketika masuk Da Vinci, misalnya. Bukan saya memojokkan Da Vinci, tapi yang ada di sana kan semua produk luar negeri. Kenapa kita yang juga punya sesuatu di sini tidak kita kembangkan? Padahal, kalau kita kembangkan secara solid dan konsisten, apa yang kita miliki itu bisa menghibur kalangan teknologi, bisa menghibur Bill Gates atau Steven Spielberg mungkin, atau kalangan jet set sekarang. Untuk orang-orang seperti mereka kan sesuatu yang glamor itu kalau mereka bisa berenang di pulau perawan, sementara mayoritas orang kita menerjemahkan modern itu hanya sebatas kulit,” ujar Edo penuh semangat. Berikut petikan perbincangan kami dengan Edo.

Bagaimana perasaan Anda melihat perkembangan pemakaian batik yang sedang marak sekarang ini?
Saya sekarang sudah bisa tidur nyenyak. Capek saya setelah riset bertahun-tahun rasanya hilang begitu melihat banyak orang sekarang sibuk bikin batik, mirip seperti saya bikin kebaya dulu. Tapi, sebagian besar yang sibuk itu masih orang-orang di kota. Padahal, waktu saya riset tentang baju adat, kain adat, perhiasan adat, dan sebagainya pada tahun 1991 sampai launching kebaya pada tahun 1996, orang-orang desa dari Sabang sampai Merauke sudah menjerit-jerit meminta pertolongan orang kota, untuk mengarahkan apa yang mereka harus produksi, sesuai dengan keahlian mereka. Itu sudah sekian belas tahun yang lalu, lo.

Apa yang mendorong Anda untuk melakukan riset dan akhirnya memilih untuk membuat kebaya dan kemudian batik?
Saya tidak pernah memilih untuk membikin kebaya dan batik. All by nature. Karena, waktu saya bikin gaun-gaun malam, saya merasa hanya sebagai follower. Karena, bukan hanya siluetnya yang saya ambil dari Barat, tapi juga bahan dan sulamannya. Saya tak mau seperti itu lagi. Saya mau menjadi diri sendiri. Saya mau punya identitas, karena itu penting.

Tentu ada pemicu kan sampai Anda bersikap seperti itu?
Tahun 1991, saya pergi ke Jambi, karena waktu itu kakak saya kerja di Jambi dan kenal dengan Gubernur Jambi, Pak Sayuti. Lewat kakak saya, beliau meminta saya untuk mengembangkan batik dan songket Jambi. Saya melihatnya dan langsung tetarik. Tahun 1992, saya bikin show-nya di London. Jadi, saya nyemplung begitu saja, tanpa ada pernyataan terlebih dulu bahwa saya mau bikin busana nasional. Begitu juga waktu mau ke Yogya. Kebetulan saja saya banyak teman di Yogya, jadi saya ke sana dan kemudian bikin riset di sana. Bahkan, pada awalnya sempat tersirat dalam hati saya, apakah ini dunia saya, meski pada tahun 1985 saya sudah membawa ulos Batak ke Belanda.

Awalnya, apa saja yang dilakukan ketika riset itu?
Saya datang ke suatu tempat dan saya tidak tahu mau bikin apa di sana. Pemahamannya juga belum ada. Yang ada hanya rasa cinta dan inilah yang akhirnya menuntun saya, dalam arti suatu kain bisa diapakan saja, bagaimana memperlakukannya, keanggunan seperti apa yang akan ditampilkan, bagaimana barang yang akan dikembangkan itu tampil glowing dan punya jiwa, dan sebagainya. Dan, untuk menjawab pertanyaan itu semua, saya menelusuri akarnya, menjadikan sebagai teman, menjadi bagian dari kehidupan saya, dan saya mencintainya dari hati yang paling dalam. Akhirnya, setelah riset selama lima tahun, tahun 1996, saya memutuskan untuk membuat kebaya, dengan pemikiran bagaimana caranya agar kebaya saya waktu dipakai untuk pergi ke undangan dapat bersanding dengan Donna Karan, Dior, dan lain-lain; bagaimana caranya kebaya saya bisa keren waktu dipakai bareng Harry Winston, mutiara dari Ichimoto, rubi dari Van Cliff & Arpells. Karena, kebaya-kebaya ini kan pernah menjadi inspirasi desainer dunia waktu zaman Belanda. Jadi, saya melakukan riset karena didorong oleh rasa cinta dan untuk mencari identitas.

Setelah itu Anda membuat buku tentang kebaya....
Ya, tahun 1999, saya membuat bukunya. Tahun 2000, saya diundang untuk menjadi pembicara di Kongres Kebudayaan di Bukittinggi, Sumatra Barat. Saya juga membuat show di sana, dengan memperagakan beragam kebaya dari berbagai daerah. Terakhir saya bikin show lagi si Solo, Jawa Tengah. Segala cara saya bikin untuk mengajak orang untuk ikut peduli, tapi tidak ada yang nyantel. Karena, untuk mengembangkan ini kan biayanya tinggi. Misalnya, kalau kita pesan songket sepuluh lembar, biasanya kan yang bagus hanya tiga-lima lembar, selebihnya gagal, tapi tetap saja harus bayar. Kegagalan itu terjadi karena kain-kain itu benar-benar dibuat dengan tangan dan tergantung pada alam. Itu sebenarnya jiwa kain adat. Karena itu, jangan pernah membandingkan selembar batik, misalnya, dengan selembar kain dari Leonard atau Roberto Calvalli. Tidak akan tertandingi. Karena, di kain adat ada jiwa, napas, human, kultur, gaya hidup. Begitu juga dengan kerajinan perak dan sejenisnya. Seluruhnya dikerjakan dengan passion dan cinta. Di sana ada kombinasi kultur dan religi.

Soal identitas itu, seberapa penting?
Identitas itu penting. Indonesia kini morat-marit karena krisis identitas, sementara identitas itu ada dalam batik. Begitu kuatnya. Dan, ada kehidupan di belakang batik. Ada usaha kecil dan menengah di sana, yang menjadi mayoritasnya. Di dalamnya juga ada pariwisata. Kalau dijual, gila! Misalnya, dalam pesawat dari Jakarta ke Solo atau Ke Yogya, penumpang disajikan tontonan tentang daerah tujuan wisata yang ada di sana, tempat-tempat makannya, kekayaan budayanya, dan sebagiannya. Tapi, untuk bisa ke arah sana, menterinya harus punya taste. ”Kita boleh saja hanya punya singkong, tapi pastikan yang kita punya itu adalah singkong yang terbaik,” itu yang pernah dikatakan mama saya. Kalau Anda tidak bisa beli bunga mawar, tanam saja suplir. Kalau tidak punya pot, pakai saja bekas kaleng cat. Jadi, semua itu tidak harus berkaitan dengan uang. Ini berkaitan dengan taste dan blue print. Nah, ketika akan bikin blue print, rekrut orang-orang yang terbaik.

Kesulitan apa saja yang Anda alami selama riset dan proses pencarian identitias itu?
Saya tidak menemui kesulitan untuk melakukan semua itu karena saya melakukannya dengan perasaan bahagia. Jangan ada matematika duit di kepala, tapi harus dimulai dengan cinta. Ini terbukti berhasil, walau tadinya banyak orang yang mencemooh. Bayangkan, pada tahun 1996, dari seratus desainer yang ada di Indonesia, hanya saya sendiri yang ketika itu membuat kebaya. Saya diledek. Tapi, setahun kemudian, ternyata banyak sekali yang meniru dan kebaya kemudian berkembang seperti sirkus, karena yang membuatnya ’tidak masuk’, hanya mengejar permintaan pasar. Kebanyakan seperti itu. Itulah saya break dulu untuk bikin kebaya, sebelum kebaya itu dikasih sayap. Ha-ha-ha.... Bagi saya sendiri, kebaya itu kalau sudah tidak simetris bukan kebaya lagi namanya. Kebaya itu harus simetris.

Begitu juga ketika saya membuat Part One. Banyak orang yang bilang saya sedang melakukan proses bunuh diri. Saya diam saja. Tapi, sekarang lihatlah. Mulai dari Pasar Klewer di Solo sampai Senayan City, orang kan bikin batik. Harganya mulai dari Rp30 ribu sampai harga yang tinggi. Bisa dibilang, sekarang, desainer Indonesia yang tidak bikin batik karena malu saja. Karena, sebenarnya, begitu kerasnya permintaan pasar.

Saya sendiri awalnya tidak mudah mempromosikan batik-batik ini ke berbagai media massa. Tak sedikit media yang menolak. Tapi, saya jalan terus. Saya gedor pintu mereka. Karena saya yakin ini menjanjikan, bukan hanya untuk saya pribadi, tapi untuk banyak orang, karena memang proses produksinya melibatkan banyak orang. Apalagi, kemudian banyak orang asing, wartawan-wartawan asing yang menyukainya. Saya menjadi punya nilai dan itu membuat saya semakin yakin.

Sebelumnya, apa yang membuat Anda yakin karya-karya batik Anda akan diterima dengan baik oleh masyarakat?
Tahun 2004 dan 2005, ketika saya belum bikin Part One, saya dengan santai mendandani Izabel Yahya dan Fahrani dengan batik saya dan saya minta mereka duduk-duduk di Kudeta, Bali. Dan, saya lihat orang-orang asing dari mancanegara langsung merubung Izabel dan Fahrani seperti semut, sambil memuji-muji baju mereka. Ketika itu, saya berpikir, kalau batik hanya untuk busana nasional, batik paling-paling hanya buat perkawinan doang. Berapa banyak, sih? Paling banyak 200 potong dan setelah itu dilupakan, dilipat dan disimpan.

Anda tampaknya sudah mantap dengan pilihan ini....
Rasa penerjemahan fashion yang seperti itu lebih mantap dalam lima tahun belakangan ini, meski semangatnya sudah ada sejak lama. Semangat itu lebih solid setelah saya mengadakan riset dan saya bergaul dengan banyak orang, mulai dari terendah sampai yang tertinggi, dari Waikabubak sampai Soho. Semua tempat itu saya rindukan dalam hidup saya. Saya bisa rindu Lasem, Madura, Shang Hai, dan lain-lain. Bukan berlian, bukan jam tangan, bukan pesawat jet pribadi, bukan yang lain, yang membuat saya bahagia, tapi perjalanan ke tempat-tempat itu. (Pedje)

No comments:

Post a Comment